Peran Lembaga PAUD Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Finansial Anak

Assalamu'alaikum...Gimana kabar ayah bunda? Apakah ananda sudah mulai diajak untuk mengelola uang sakunya? Bicara masalah uang saku sepertinya hal sepele yaa tetapi jika ayah bunda tidak dari awal mendidik ananda belajar mengelolanya akan berdampak negatif terhadap pembentukan karakter anak. Karakter yang sudah mengakar sampai dewasa akan sulit sekali merubahnya.

Baca juga: 5 Manfaat Ajak Anak Mengelola Uang Saku Sejak Usia Dini

Kebanyakan orangtua selama ini tidak peduli dengan pemanfaatan uang saku. Mereka tahunya hanya memberi anak uang saku setiap hari tanpa melakukan pengawasan. Akhirnya anak dengan bebas membelanjakan uang saku sesukanya.


Sistem pendidikan disekolah pun juga tidak mengajarkan anak tentang uang. Mengelola uang tidak masuk dalam kurikulum pembelajaran di semua jenjang pendidikan. Padahal ini sangat penting untuk ditanamkan pada anak sebagai bekal hidup yang akan datang.

Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat tiga pusat pendidikan yang memiliki peranan besar terhadap proses tumbuh kembang seorang anak yaitu pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di lingkungan sekolah, dan pendidikan di lingkungan masyarakat.

Pendidikan keluarga merupakan yang pertama kali mempengaruhi karakter anak. Dalam hal ini orangtua lah yang seharusnya pertama kali mendidik dan mengarahkan anak mengelola uang saku.

Bagaimana caranya ? Silahkan baca: Tips Mendidik Anak Mengelola Uang Saku

Selanjutnya pendidikan sekolah akan menjadi mitra orangtua dalam memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi anak agar dapat berkembang optimal. 

Peran lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam menanamkan kecerdasan finansial pada diri anak dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya sbb.

➤ Infaq Jum'at

     Pada kegiatan ini setiap kelas menyediakan kaleng atau kotak infaq. Orangtua setiap hari Jum'at   diminta membawakan uang untuk infaq dan anak sendiri yang memasukkan uang ke kaleng. 

Guru menjelaskan manfaat infaq dan penggunaannya pada anak seperti untuk membantu korban bencana, takziah, menjenguk teman yang sakit, dan sebagainya.

➤Tabungan Anak
    
    Program tabungan ini bisa kerjasama dengan bank atau BMT untuk mengelolanya. Guru memotivasi anak agar suka menabung dan tidak banyak jajan.

➤ Menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak melalui kegiatan market day. Belajar melalui bermain membuat anak senang melakukannya.

Seperti apa kegiatan market day bisa baca disini: Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Market Day

Agar program tersebut berjalan dengan lancar maka perlu dibuat aturan bahwa anak ke sekolah tidak boleh membawa uang selain untuk infaq dan menabung. Kegiatan market day bisa disiasati dengan menggunakan dana kegiatan anak.

Untuk kegiatan keluar (outing class) lebih baik anak dibawakan bekal dari rumah atau pihak sekolah yang menyediakan konsumsinya.

Selain aturan untuk anak, perlu dikondisikan juga agar lingkungan sekolah terbebas dari tempat mangkal para pedagang keliling. Cara yang efektif dengan menempel tulisan larangan berjualan didepan pintu gerbang. 

Melarang lingkungan sekolah untuk berjualan dapat menghindarkan anak dari perilaku suka jajan sembarangan dan perilaku konsumtif khususnya beli mainan secara berlebihan karena rata-rata pedagang yang mangkal di sekolah adalah menjual mainan atau makanan siap saji.

Menumbuhkan kecerdasan finansial anak membutuhkan kerjasama antara orangtua dengan pihak sekolah. Maka komunikasi harus senantiasa dibangun, orangtua dapat memberikan masukan, kritik, maupun saran pada pihak sekolah terhadap program kegiatan yang dijalankan. 

Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan lembaga PAUD dalam upaya menanamkan kecerdasan finansial pada diri anak. Masih banyak cara-cara lain yang dapat dipakai sesuai dengan kondisi masing-masing lembaga.

@trismiati

Tips Mendidik Anak Mengelola Uang Saku


Assalamu'alaikum..para pembaca yang setia, pada artikel sebelumnya, penulis sudah menjelaskan beberapa manfaat jika orangtua mau mendidik anak mengelola uang saku sejak usia dini. 

Kali ini penulis akan menyampaikan tips yang sangat sederhana dan mudah diterapkan agar orangtua berhasil mengajak anak mengelola uang saku mereka sehingga harapannya anak punya kecerdasan finansial sebagai bekal hidup lebih mandiri dan sejahtera.


Supaya tips ini berhasil diterapkan, maka dibutuhkan kesabaran dan konsistensi dari bapak dan ibu selaku orangtua maupun pengasuh lain (misal kakek, nenek, dan sebagainya). 


Banyak orangtua jaman now yang semuanya sibuk bekerja sehingga untuk pengasuhan anak diserahkan ke nenek, baby sitter, dan lainnya. Perlu komunikasi yang baik agar semua yang terlibat dalam pengasuhan anak mempunyai pandangan sama terutama dalam hal mendidik anak mengelola uang. 

Mendidik anak mengelola uang saku bukan berarti orangtua itu pelit membelanjakan harta, tetapi ini merupakan salah satu upaya agar anak ketika dewasa sudah terbiasa mengelola uang dengan baik. 

Dengan demikian, uang saku dapat digunakan sebagai media atau sarana pembelajaran yang efektif bagi anak. Apabila orangtua memberikan uang saku tanpa ada timbal balik dari anak maka anak akan memandang uang saku sebagai "hak" mereka. 


Mentalitas "merasa berhak" akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. Bahkan anak akan memandang orangtua seperti mesin ATM yang sewaktu-waktu diminta langsung keluar uang tanpa anak bersusah payah melakukan suatu usaha.


Kalau mentalitas anak seperti ini, kelak ketika dewasa bahkan sudah berkeluarga pun anak tidak akan pernah mandiri, hidupnya selalu tergantung pada orangtuanya. 


Untuk menghindari sikap "merasa berhak" maka sebaiknya orangtua sejak awal menjelaskan pada anak bahwa uang saku diberikan karena anak sudah bersusah payah belajar dan mau melaksanakan tugas-tugas sekolah. Saat ini banyak anak usia 3 tahun sudah dimasukkan ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Usia 3-6 tahun adalah masa dimana seseorang lebih mudah dibangun karakternya. Anak usia ini mempunyai banyak keinginan dan permintaan, seperti minta jajan, pengin beli mainan, dan lain sebagainya. Jika semua keinginan anak tidak dituruti biasanya anak merengek atau menangis sampai keinginan mereka dipenuhi. 


Semakin bertambah usia, keinginan anak juga akan semakin besar, seperti minta sepeda, HP, dan sebagainya. Tidak cukup merengek atau menangis jika keinginannya tidak dipenuhi tetapi biasanya akan mengamuk bahkan disertai dengan ancaman seperti tidak mau sekolah. 


Akhirnya orangtua pun tidak tega dan akhirnya menyerah untuk memenuhi semua keinginan anak. Jika sikap seperti ini terus menerus terjadi, dalam jangka panjang anak akan terbentuk karakternya menjadi seorang yang punya ego besar, lemah, cepat putus asa, dan tidak mau berusaha.

Maka mumpung anak masih kecil alangkah baiknya kecerdasan mengelola uang saku mulai ditanamkan. 

Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:

#1. Menentukan batas maksimal uang jajan anak perhari.


Beri pemahaman pada anak bahwa dia bisa jajan tidak melebihi anggaran. Jika anak merengek atau menangis karena minta jajan melebihi anggaran maka abaikan saja. Kasih pengertian kalau hari ini jatah jajan sudah habis dan bisa jajan lagi esok hari. 


Merengek atau menangis bagi anak kecil merupakan sebuah "senjata ampuh" agar keinginannya terpenuhi. Jangan terbuai dengan kondisi anak seperti ini, orangtua harus bertahan dan tetap konsisten pada aturan yang sudah ditetapkan.


#2. Terapkan sistem 3 buah celengan.


Belikan anak 3 buah celengan yang bentuknya menarik. Masing-masing celengan diberi nama sumbangan/infaq, tabungan, dan investasi. Selain untuk jajan, arahkan anak menyisihkan uang sakunya untuk dimasukkan ke dalam 3 celengan tersebut. Selain uang saku, bisa juga uang anak yang didapat ketika hari raya Iedul Fitri atau ketika di sunat.


Dalam bukunya Robert T. Kiyosaki berjudul  Rich Kid Smart Kid, ke tiga celengan tersebut berfungsi:


➤ Infaq/sumbangan dipakai untuk mengasah sifat dermawan dan mau berbagi pada diri anak. Jelaskan pada anak bahwa semua harta yang dimiliki wajib disisihkan untuk membantu orang lain.


➤ Tabungan dipakai jika anak menginginkan sesuatu misal mainan, beri penjelasan pada anak bahwa untuk mendapatkan mainan harus menabung dulu sampai uangnya cukup. Ini akan membentuk sikap sabar dan disiplin sehingga anak akan merasakan bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu butuh proses, tidak serta merta langsung ada.


➤ Investasi. 

Celengan inilah yang akan memberikan anak belajar mengambil resiko, melakukan kesalahan, mendapat pelajaran, dan memperoleh pengalaman yang akan bermanfaat bagi kehidupan anak seumur hidup. Tumbuhkan jiwa wirausaha anak dengan memanfaatkan uang di celengan investasi ini.

Pada usia 9 tahun, seorang anak mulai mencari identitasnya sendiri. Ajak anak memikirkan cara-cara menghasilkan uang dengan memulai usaha kecil-kecilan, misalnya: menjual donat, kertas mewarnai, tempat pensil, dan sebagainya. Suruh anak menawarkan barang tersebut ke teman-teman mainnya. Laba penjualan meskipun sedikit dimasukkan ke celengan ini.

Ketika uang di celengan ke tiga ini terkumpul banyak, ajak anak untuk berinvestasi misalnya memanfaatkan uang disini untuk membeli emas batangan atau bentuk investasi lain sesuai syari'ah.

Demikian tips mendidik anak mengelola uang saku yang dapat diterapkan dirumah, bagaimana dengan di sekolah? Insya Allah akan penulis sampaikan pada artikel selanjutnya. @trismiati


5 MANFAAT AJAK ANAK MENGELOLA UANG SAKU SEJAK USIA DINI



Sudah menjadi kebiasaan pada masyarakat kita ketika anak berangkat sekolah selalu mendapatkan uang saku dari orang tuanya. Orang Jawa khususnya Yogyakarta menyebutnya "sangu". Tujuan orang tua memberikan uang saku selama ini kurang begitu jelas, hal ini sudah menjadi budaya sehingga seolah-olah uang saku wajib diberikan anak yang masih sekolah mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah.

Karena sudah menjadi budaya, di benak anak pun sudah tertanam kuat bahwa setiap hari ketika akan berangkat sekolah berhak menerima uang saku. Besar kecilnya uang saku yang diberikan sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Uang saku menjadi pos pengeluaran wajib anggaran keuangan keluarga. Karena diberikan secara rutin setiap hari maka seandainya selama satu tahun di total tentu jumlahnya besar. Belum lagi kalau dalam keluarga punya lebih dari satu anak sekolah. 

Bagi anak usia TK dan SD uang saku biasanya digunakan sekedar untuk jajan makanan ringan pada jam istirahat. Berbeda dengan anak SMP, SMA, atau kuliah, selain untuk jajan juga digunakan untuk beli pulsa, bensin bagi yang naik motor bahkan banyak pelajar sekarang khususnya laki-laki dipakai buat beli rokok. Kondisi ini sering kita jumpai di area tempat nongkrong mereka, bersama teman-temannya terlihat asyik ngobrol sambil merokok. Bisa dipastikan uang yang dipakai untuk membeli rokok berasal dari uang saku mereka. 

Melihat fenomena seperti ini harusnya menjadi keprihatinan bagi para pendidik terlebih lagi orangtua agar dapat mengarahkan anak mengelola uang saku untuk hal-hal positif. Jika anak diberi kebebasan tanpa batas menggunakan uang saku maka kelak akan menjadi bumerang baik bagi orangtua maupun bagi anak itu sendiri. Anak akan tumbuh menjadi pribadi konsumtif, tidak mandiri, kurang bertanggung jawab, kurang disiplin, dan bisa jadi ketika anak dewasa menjadi seorang pejabat akhirnya terjerumus ke tindakan korupsi.

Usia dini (0-6 tahun) merupakan saat yang paling tepat untuk menanamkan suatu sikap atau karakter melalui pembiasaan. Pembiasaan yang sudah tertanam sejak kecil akan menjadi sebuah karakter ketika dewasa. Maka pembiasaan mengelola uang saku pun sangat tepat dimulai pada usia ini agar proses perkembangan selanjutnya tinggal merawat dan menguatkan pembiasaan yang sudah terbentuk. 

Berikut 5 manfaat mengelola uang saku bagi anak usia dini:

1. Anak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Sebelum memberi anak uang saku, kenalkan terlebih dahulu fungsi uang dan kegunaannya. Ajarkan hal-hal sederhana tentang apa yang menjadi kebutuhan dan apa yang termasuk keinginan. Misal: anak pengin jajan ice cream berarti itu suatu keinginan, atau ketika ada bazar buku ajak anak dan belikan mereka buku cerita karena buku merupakan kebutuhan bagi mereka.

2. Anak mengenal prioritas mana yang lebih penting.

Setelah anak paham tentang kebutuhan dan keinginan, ajak anak memilah milah keinginan yang menjadi kebutuhan anak. Tidak semua keinginan anak merupakan kebutuhan bagi mereka dan tidak semua kebutuhan merupakan keinginan anak. Orangtua harus pintar untuk menjelaskan sesuai dengan tingkat pemahaman anak.

3. Anak dapat menghargai uang.

Jelaskan kepada anak proses orangtua mendapatkan uang dari mana. Tanamkan pada mereka bahwa untuk mendapatkan uang tidak bisa instan tetapi melalui kerja keras agar anak lebih mudah untuk diajak mengelola uang. Jika anak sudah terbiasa mengelola uang maka kelak mereka akan menghargai uang yang dimilki, mengatur semua pengeluaran dengan hati-hati (tidak boros) dan menggunakannya untuk hal-hal positif.

4. Anak akan pandai memecahkan masalah.
Dengan mengatur uang sejak dini, anak akan terbiasa memecahkan berbagai macam masalah sesuai ukuran mereka, itu akan sangat bermanfaat ketika mereka dewasa.

5. Anak akan cerdas secara finansial (keuangan)
Kecerdasan finansial saat ini sangat dibutuhkan agar kehidupan anak ketika dewasa menjadi lebih sejahtera, terhindar dari masalah-masalah keuangan seperti terlilit utang, tidak mampu membiayai kebutuhan rumah tangga (keluarga), kemiskinan, dan lain-lain.

Itu beberapa manfaat bagi anak apabila para pendidik dan orangtua mulai sejak dini mendidik dan mengarahkan anak mengelola uang saku. Dibutuhkan sinergi antara pembelajaran disekolah dengan kehidupan anak di lingkungan keluarganya.

Bagaimana caranya mendidik anak agar sejak dini dapat mengelola uang saku mereka? Insya Allah akan penulis sampaikan pada artikel selanjutnya..@trismiati





Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Market Day

                                        
"Suasana kegiatan Market Day di PAUD IT Ar Raihan Piyungan"

Saat ini jumlah angka pengangguran di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah pengangguran sebesar 10.000 orang sehingga jumlah pengangguran menjadi 7,04 juta orang. Sebagian besar dari jumlah pengangguran tersebut berasal dari usia yang masih sangat produktif dan paling banyak berasal dari lulusan jenjang Sekolah Menengah Atas.

Salah satu penyebab pengangguran adalah rendahnya keahlian khusus atau soft skill yang mereka miliki yaitu kemampuan diluar kemampuan teknis dan  akademis. Kemampuan soft skill lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal. Contohnya: kemampuan beradaptasi, komunikasi, mandiri, kreativitas, motivasi, percaya diri, dan lain-lain. 

Masalah pengangguran adalah masalah serius yang harus dicari solusinya karena akan berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat atau kemiskinan dan masalah sosial lain seperti kriminalitas. Salah satu tindakan preventif yang bisa dilakukan yaitu pencegahan pertumbuhan tingkat pengangguran dengan cara meningkatkan perhatian terhadap bidang pendidikan.


Lembaga pendidikan seharusnya mampu menyiapkan lulusan tidak hanya terampil dalam penguasaan ilmu akademis tetapi juga kemampuan soft skill nya. Salah satunya melalui pendidikan kewirausahaan. Jika para lulusan dibekali dengan kemampuan ini, mereka akan lebih siap bersaing dalam mengisi lowongan kerja yang tersedia dan mempunyai jiwa wirausaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja sendiri.


Bagi lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan kewirausahaan dapat dikemas melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. Bagi anak usia dini targetnya bukan sebagai pelaku tetapi baru sebatas pengenalan. Salah satu program pembelajarannya  melalui kegiatam Market Day (hari pasar). 


Market Day merupakan salah satu alternatif kegiatan pembelajaran kewirausahaan, dimana anak-anak diajarkan bagaimana memasarkan barang kepada orang lain, mengenalkan aktifitas dipasar tradisional, melatih anak untuk berkomunikasi, melatih anak mengambil resiko apabila barang dagangannya kurang begitu laku, melatih anak melayani dengan baik, melatih anak untuk percaya diri, dan lain-lain.  

Dengan kegiatan Market Day ini, diharapkan anak-anak teredukasi sejak usia dini bagaimana cara berjualan yang baik, bagaimana etika ketika dipasar baik sebagai pelaku penjual maupun pembeli, mengenal konsep kejujuran dalam berniaga, mengenal konsep uang sebagai alat pembayaran dan akhirnya mereka akan termotivasi untuk menyukai dunia bisnis.

Dalam kegiatan ini orangtua peserta didik dapat dilibatkan perannya sebagai pembeli atau membantu anak menyiapkan barang dagangan.@trismiati



"Menumbuhkan sikap percaya diri dan berani mengambil resiko"


"Sebagai ajang silaturahmi antara siswa siswi PAUD IT Ar Raihan Piyungan 
dengan SDIT Kholid Bin Walid


"Memotivasi anak untuk bercita-cita menjadi pebisnis"


"Mengenalkan adab makan dan tidak buang sampah sembarangan"


"Menghadirkan suasana riang gembira"

Resolusi Guru 2018



Memasuki awal tahun baru ini, sebaiknya kita merancang resolusi. Apa arti resolusi ? Resolusi adalah semacam impian atau target yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu, bisa tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun. Apalagi yang berprofesi sebagai guru akan sangat penting menentukan resolusi. Mengapa penting ? Karena kualitas seorang guru akan sangat menentukan kualitas peserta didiknya.

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Jadi tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan dan menilai peserta didik. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki empat kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. 


Untuk mencapai ke empat kompetensi tersebut maka seorang guru seharusnya dari waktu ke waktu melakukan peningkatan kualitas yang harus dirancang dalam sebuah pernyataan tertulis, yang disebut RESOLUSI !


Hanya ada satu cara agar guru semakin berkualitas, yaitu belajar. “Berhentilah mereka yang berprofesi sebagai guru jika mereka kurang suka belajar”. Kata-kata tersebut memang benar adanya karena guru dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai orang yang “di gugu lan di tiru”. Jika gurunya saja tidak mau belajar maka siap-siap saja, peserta didiknya pun juga akan malas belajar.


Lalu, memasuki awal tahun 2018 ini apa resolusi kita sebagai guru ? Apabila masih bingung dengan pencapaian  yang akan menjadi impian dan target, melalui coretan singkat ini penulis sampaikan beberapa contoh resolusi sebagai pilihan. 

Berikut contoh resolusi yang mungkin dapat dibuat oleh seorang guru sebagai sarana peningkatan kualitas:

1. Membuat inovasi pembelajaran baik berupa alat peraga, media, maupun metode pembelajaran. Guru yang kreatif dan inovatif pasti sangat menyenangkan peserta didik.


2. Membimbing peserta didik dalam mengembangkan minat dan bakatnya. 


3. Aktif dalam kepengurusan organisasi profesi. Guru yang terlibat aktif dalam organisasi profesi (tidak hanya sekedar tercatat sebagai pengurus tetapi pasif dalam kerja-kerja kepengurusan) akan terasah kompetensi sosial dan kepribadiannya.


4. Menulis artikel, buku, atau karya tulis lainnya.


5. Aktif mengikuti perlombaan guru. Hasil bukan tujuan tetapi proses lah yang akan menempa seorang guru menjadi pribadi yang pantang menyerah, percaya diri, serta suka akan tantangan.


6. Menguasai teknologi komputer dari yang paling mudah seperti MSword, exel, powerpoint, dan terlebih lagi internet. Guru di jaman sekarang yang tidak mau belajar teknologi bisa dipastikan akan sangat ketinggalan. 


7. Ikut gabung dalam kerja sosial. Mau berkontribusi dalam kerja sosial yang ada disekitar lingkungan kita akan mendapatkan pengalaman berharga yang akan membuka wawasan dan hati kita.


8. Jadi pembicara. Ini bisa dimulai dari lingkup organisasi profesi yang diikuti. Pengalaman menjadi pembicara adalah kita dapat belajar mengkomunikasikan ide dan gagasan pada orang lain secara langsung. Jangan sampai seorang guru hanya mahir berbicara di depan peserta didik tetapi kurang percaya diri ketika diminta berbicara di forum lain.


9. Berjejaring di media social seperti facebook, twitter, dan lain-lain yang dapat memberikan pengalaman social menembus batas ruang dan waktu.


10. Ikut seminar, workshop, pelatihan, atau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. 


Dan masih banyak lagi resolusi lainnya, lantas apakah semua resolusi yang kita pilih harus tercapai ? Yaa tidaaaaak, tetapi setidaknya adanya resolusi akan membuat aktivitas guru menjadi terarah sehingga menjadikan tindakannya menjadi lebih matang. Jikalau ada resolusi yang tidak tercapai setidaknya kita sudah berusaha. Ada istilah "lebih baik mencoba dan gagal daripada sukses tidak melakukan apa-apa".


Akhirnya resolusi menjadi sebuah pilihan. Apakah kita puas dengan kondisi sekarang yang hanya menjadi “guru biasa” saja ? Ataukah kita ke depan ingin menjadi guru “luar biasa” yang mampu mengembangkan potensi secara optimal sehingga keberadaannya pun akan senantiasa memberikan manfaat bagi peserta didik dan orang lain ?

Itu terserah anda……..

@trismiati








Catatan Di Penghujung Tahun

AKHIR SEBUAH PILIHAN
 @trismiati

Hari ini kita berada di penghujung tahun 2017. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat sekitar kita setiap malam pergantian tahun baru Masehi selalu diwarnai dengan acara pesta pora, menyalakan kembang api, meniup terompet, panggung hiburan, dan kegiatan serupa yang menghiasi di setiap sudut tempat wisata, hotel berbintang, dan di jalan-jalan utama (jantung kota). Ribuan manusia yang sebagian besar anak muda berjingkrak bersama mengikuti alunan musik yang terdengar dari panggung-panggung hiburan hanya untuk sekedar menghabiskan malam menanti detik-detik pergantian tahun baru hingga sering berlanjut ke pesta minuman keras sampai mabuk.

Sebagai seorang muslim, bagaimana sikap kita dalam menghadapi fenomena yang sudah merebak seperti ini ?  Apakah kita akan terbawa arus turut serta merayakannya ataukah kita dapat menghindarinya. Berikut beberapa mudarat dari acara perayaan tahun baru yang sepantasnya menjadi bahan renungan buat kita:

1. Menyerupai kaum kuffar.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud)
Hadist ini menunjukkan bahwa menyerupai kaum kuffar adalah haram dan perayaan tahun baru dengan pesta pora bukan merupakan syiar Islam tetapi merupakan budaya agama lain.

2. Manyia-nyiakan waktu.
Orang yang merayakan malam pergantian tahun dipastikan akan begadang, menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar menunggu detik-detik waktu 00.00. Padahal waktu kita di dunia ini kelak akan dipertanyakan Allah untuk apa kita pergunakan sehingga Rasul pun bersabda,”Diantara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.” (HR At Tirmidzi)

3. Pemborosan dan menghamburkan uang sia-sia.
Perayaan tahun baru Masehi selalu identik dengan petasan, menyalakan kembang api, meniup terompet, hiburan musik dan kegiatan lain yang itu pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit. Milyaran uang terbuang percuma hanya pada satu malam itu. Semua itu termasuk hal yang mubadzir, dan dibenci Allah.

4. Perbuatan maksiat.
Dengan adanya ikhtilat atau bercampur baurnya kaum laki-laki dan perempuan bukan mahram di tempat keramaian dapat menjerumuskan kepada zina dan maksiat lainnya. Menurut fakta yang ada banyak sekali anak muda pergi merayakan malam tahun baru secara berpasangan, bahkan menurut kabar berita setiap akhir pergantian tahun pembelian kondom selalu meningkat tajam. 

Berdasarkan beberapa mudarat di atas, sepatutnya kita bisa merenung dan berupaya untuk menjaga diri dan keluarga agar terhindar dari mengikuti arus budaya luar yang sekarang menjangkiti kehidupan masyarakat sekitar kita. Peran orangtua begitu besar untuk mengawasi dan mengontrol putra putrinya agar terhindar dari mengikuti arus budaya yang dapat merusak masa depan mereka. Khusus bagi orangtua yang masih mempunyai anak usia dini, tanamkan sejak dini untuk memanfaatkan pergantian tahun baru dengan hal-hal positif seperti baca Al Qur’an bersama, menyimak hafalan, pengajian, dan lain-lain. Jauhkan malam tahun baru dari menonton TV karena biasanya acara TV pada malam itu juga tidak terlepas dari hiburan sia-sia. Lebih baik bercengkerama dengan anggota keluarga, saling mengevaluasi hal-hal apa saja yang sudah terjadi selama satu tahun ini dan membuat rancangan untuk perbaikan tahun yang akan datang. 
Akhirnya, kita tinggal memilih mau bagaimana mengisi malam tahun baru nanti malam… 


Pengalaman Mengajar Anak Hiperaktif

MENJADI HEBAT SI HIPERAKTIF



  ( Alif yang berdiri paling kiri nampak ceria )


Anak usia dini identik dengan perilaku penuh ceria, aktif bergerak, suka bertanya, berlari kesana kemari, memanjat, memainkan sesuatu, membongkar pasang mainan dan sebagainya. Tingkah laku anak seperti ini sangat wajar karena masa kanak-kanak memang merupakan masa seseorang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan berbagai macam aktivitas gerak fisik motorik. Pada usia ini perkembangan motorik dan syaraf anak akan mencapai kematangannya sehingga disebutkan masa ini sebagai masa emas atau golden age. Masa emas ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Apabila dalam masa ini anak tidak distimulasi secara maksimal akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya.
           Diantara tingkah laku anak-anak tersebut terdapat anak yang aktivitas geraknya sangat berlebihan dibandingkan anak pada umumnya. Anak-anak seperti ini biasanya  sangat sulit diatur untuk bersikap lebih tenang, ia berlari kesana kemari, memanjat apa yang bisa dipanjat, mengambil barang yang ada untuk selanjutnya memainkannya sebentar lalu dibuang begitu saja. Ia bergerak tanpa tujuan jelas dan seakan tidak pernah merasakan lelah. Bisa jadi anak ini mengalami gangguan yang dikategorikan sebagai anak hiperaktif. Anak hiperaktif adalah anak yang mempunyai tingkat keaktifan lebih dan seringkali mengarah ke autisme sehingga dapat mengalami gangguan dalam berinteraksi sosial, komunikasi, pemikiran, serta mengalami gangguan dalam pola memusatkan perhatian. Para ahli sepakat ada kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasinya sangat pendek dan sulit untuk dikendalikan. Dalam istilah kedokteran gangguan ini dikenal sebagai Attention Deficit Discroder (ADD) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Faktor-faktor penyebab anak hiperaktif sebagian besar masih didominasi oleh sifat genetik atau adanya keturunan dari silsilah keluarga. Faktor lain karena pengaruh lingkungan, malfungsi otak, epilepsy, ada gangguan di kepala seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan, infeksi, keracunan, kekurangan sumber gizi penting yang membantu perkembangan otak motorik anak, dan elergi makanan. Gangguan ini tidak begitu kentara, karena anak tidak mengeluh rasa sakit   walaupun sebenarnya telah terjadi gangguan pada susunan saraf pusat. Ciri-ciri anak hiperaktif baru terdeteksi setelah usia empat tahun (usia awal sekolah) yang dapat dilihat dan dibedakan dengan anak normal pada umumnya.
Ada beberapa karakterisitik anak hiperaktif menurut para ahli yang perlu diketahui oleh para orangtua dan guru, yaitu:
1. Mungkin ketika usia bayi, anak sering menangis terus menerus dan suka berteriak.
2. Memiliki pola tidur yang tidak teratur dan sering terbangun pada malam hari.
3. Rentang perhatian yang kurang sehingga anak mudah lupa dan tidak tuntas dalam mengerjakan           setiap tugas, bahkan cenderung menghindari tugas yang diberikan guru. 
4. Memiliki perilaku impulsif (bertindak sekehendak hatinya) yang menyebabkan anak tersebut              sulit diterima temannya karena sering menunjukkan perilaku negatif seperti merebut barang atau         mainan punya teman, tiba-tiba memukul teman atau merusak barang-barang yang ada                           disekitarnya. Teman-temannya pun akhirnya memberikan label bahwa ia anak nakal.
5. Tidak bisa diam, selalu bergerak kesana kemari ketika proses belajar mengajar berlangsung                 sehingga mengganggu konsentrasi anak lain. Gurupun sering kewalahan menghadapi situasi               lingkungan belajar seperti ini.
6. Apa yang dilakukan tanpa tujuan. Sebagai perbandingan, anak superaktif naik ke atas meja                 untuk mengambil sesuatu tetapi anak hiperaktif naik turun meja tanpa tujuan, ini dilakukan                 secara berulang-ulang.
7. Mudah marah dan frustasi jika anak tidak bisa atau belum selesai mengerjakan sesuatu. Bentuk           kemarahannya ditunjukkan dengan perilaku yang kadang sulit untuk dimengerti.
8. Sering melakukan kesalahan atau kecerobohan yang menimbulkan kecelakan-kecelakaan kecil.

    Berdasarkan beberapa karakterisitik di atas, maka jika di kelas ada anak hiperakif dapat dibayangkan kondisi kelas akan sangat gaduh dan tidak kondusif untuk pembelajaran. Sangat dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk menangani anak hiperaktif. Faktor lingkungan sekitar, peran orangtua/guru/pengasuh, dokter terapi, dan psikolog merupakan faktor penting dalam mendukung upaya penyembuhan anak hiperaktif atau setidaknya membantu mengurangi kebiasaan buruk dan pola tingkah laku aneh yang sering muncul.
       Sebuah tantangan sekaligus pengalaman sangat berharga bagi saya yang pernah memiliki murid terindikasi sebagai anak hiperaktif. Sebagai guru profesional kita seharusnya menerima apapun kondisi anak dengan penuh keikhlasan dan kesabaran karena semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak agar potensi yang dimiliki dapat berkembang optimal. Tak terkecuali dengan anak hiperaktif, mereka harus ditangani secara tepat agar tidak mengganggu proses belajar mengajar yang dapat merugikan diri anak itu sendiri maupun teman lainnya. Ada rasa puas ketika saya dapat kesempatan mendampingi anak hiperaktif selama dua tahun dan dapat membantu menyelesaikan persoalan yang timbul akibat dari perilaku hiperaktifannya itu. Terlebih lagi banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan dan itu sangat berguna untuk menunjang dalam menjalankan amanah sebagai seorang guru. Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dalam menangani anak hiperaktif khususnya ketika berada dikelas. 
        Namanya Alif, ketika masuk kelas A1 (kelas saya waktu itu) sudah berusia 4 tahun. Sebelumnya dia masuk kelas Kelompok Bermain (KB) selama 1 tahun dan di kelas Batita 2 tahun. Selama rentang masa 3 tahun tersebut perkembangan Alif dinilai dari berbagai aspek ternyata belum berkembang sesuai dengan harapan, jauh tertinggal dengan teman-temannya dalam satu kelas. Dia paling lambat bicara, berjalan dan kemampuan fisik motoriknya juga belum berkembang sesuai tahapan usianya. Mulai memasuki TK A perilaku Alif semakin nampak jelas terlihat sangat beda jauh dengan anak-anak lain di kelas A1. Beberapa karakterisitik anak hiperaktif seperti diatas sebagian besar ada pada diri Alif. Ketika pembelajaran berlangsung Alif belum bisa duduk tenang, ia selalu berpindah-pindah tempat kesana kemari sambil menyeret kursi yang dipakai untuk duduk sehingga teman-temannya merasa terganggu dengan perilakunya. Bahkan sering tiba-tiba Alif memukul temannya tanpa sebab. Apalagi jika Alif menginginkan mainan atau benda yang dibawa teman langsung merebutnya. Kemampuan bicaranya juga belum bagus, tidak terdengar jelas apa yang diucapkan dan sering berteriak teriak kegirangan. Ketika kegiatan sholat pun Alif hanya berlarian tidak tentu arah, bahkan sering menabrak temannya yang lagi sholat sampai terjatuh. Dari sisi kemandirian juga masih sangat kurang, Alif sangat tergantung dengan bantuan orang lain.  Di kelas masih sering ngompol di celana, belum bisa melepas baju dan celana, belum bisa menalikan sepatu, belum bisa membuka botol minum, menaruh tas miliknya tidak pada tempatnya, buang sampah masih sembarangan dan hal-hal kecil lainnya yang seharusnya sudah bisa dilakukan anak seusianya. Mungkin karena pola asuh dari orangtua maupun kakek neneknya yang terlalu memanjakan sehingga apapun menjadi sebuah ketergantungan dan menimbulkan kemalasan pada dirinya. Apa-apa yang menjadi keinginan Alif selalu dipenuhi, bahkan setiap pagi ketika akan masuk ruang kelaspun Alif tidak dibiarkan jalan sendiri tetapi masih digendong seperti waktu masih kelas KB. Saya sebagai guru pendamping bersama wali kelas waktu itu merasa kewalahan apalagi dalam satu kelas itu juga ada anak yang baru masuk dan punya perilaku temper tantrum yang juga sangat butuh pendampingan khusus. Mendapatkan amanah mendampingi dua anak “special” tersebut membuat saya tambah semangat untuk mencari informasi bagaimana cara penanganannya melalui buku-buku bacaan maupun konsultasi dengan psikolog. Setiap selesai sholat dhuha tak lupa saya sisipkan do’a buat mereka agar senantiasa diberi kemudahan untuk menjadi lebih baik. Selain do’a tentunya diperlukan juga sebuah upaya agar dalam mengelola kelas A1 bisa terkondisi dengan lebih baik.
Yang pertama kali kami lakukan adalah mengkomunikasikan kondisi Alif dengan orangtuanya. Ini tidak mudah karena orangtua Alif bersikukuh berpendapat kalau anaknya normal, tidak ada kelainan apapun. Ketika kami mengusulkan untuk diperiksakan ke dokter spesialis anak atau konsultasi ke psikolog pun mereka tidak merespon dan mengatakan bahwa kami selaku gurunyalah yang kurang perhatian pada Alif. Melihat ayah ibunya yang semuanya bekerja, justru bisa dipastikan merekalah yang kurang perhatian pada anaknya. Di luar jam sekolah, Alif diasuh oleh kakek neneknya karena ibunya bekerja pulang sampai jam 7 malam. Meskipun sikap orangtua Alif seperti itu, tidak mengurangi semangat kami dalam melakukan pendampingan sebaik mungkin.Yang menjadi titik fokus perbaikan kami waktu itu tentang kemandiriannya dulu, minimal bisa mengurus dirinya sendiri dimulai dari hal kecil seperti membuka botol minum, BAK/BAB sendiri, memakai sepatu, dan lain-lain. Awalnya agak susah karena Alif selama ini selalu dibantu, tetapi dengan memberikan reward/penghargaan berupa kata-kata “anak hebat” akhirnya Alif termotivasi untuk mencoba berusaha mandiri.
Semester satu telah terlewati dengan membawa banyak perubahan pada diri Alif khususnya tentang kemandiriannya. Dia sudah bisa memakai dan melepas sepatu sendiri, menaruh barang sesuai tempatnya, mau merapikan mainan selesai digunakan, dan ketika ingin pipis sudah mau ke toilet meskipun harus diantar guru. Untuk keaktifannya mengikuti pembelajaran masih terus didampingi secara khusus dan terus menerus diberi motivasi berupa kata-kata sanjungan sebagai “anak hebat”.
Awal semester dua sikap orangtua Alif belum berubah. Mereka masih terobsesi agar Alif di kelas A sudah bisa membaca dan menulis, padahal kemampuannya untuk bisa konsentrasi saja masih sangat kurang. Bahkan obsesi mereka diwujudkan dengan mendatangkan guru les baca tulis kerumahnya. Karena kesadaran orangtua Alif terhadap kondisi anaknya masih seperti itu akhirnya saya punya ide untuk merekam perilaku dan tingkah polah Alif pada saat kegiatan pembelajaran di kelas dengan menggunakan HP.
Pada saat laporan hasil belajar semester kedua (serah terima raport), orangtua Alif hanya mengkritisi kemampuan bacanya, tidak memberikan apresiasi sama sekali tentang kemandiriannya yang sudah mulai terlihat. Akhirnya rekaman yang ada di HP saya perlihatkan dan nampaknya mereka mulai menyadari bahwa Alif memang beda dengan teman-temannya. Dalam video itu terekam dengan jelas ketika pembelajaran teman-temannya bisa menyimak dengan tenang tetapi Alif berlari-lari tanpa henti. Ada juga rekaman yang menunjukkan ekspresinya ketika dikelas tampak malas-malasan tidak mau mengerjakan tugas dari guru sementara semua temannya asyik mengerjakan tugasnya. Ada juga rekaman ketika dia marah dan mengganggu temannya.
Usaha kami untuk menyadarkan orangtua Alif membuahkan hasil. Memasuki TK B komunikasi kami dengan orangtua Alif semakin membaik dan mereka mulai terbuka menerima masukan dan saran yang kami sampaikan. Dirumah pun Alif sudah tidak dipaksa ikut les membaca lagi, tetapi diberi pendamping seorang psikolog. 
      Di kelas B1 ada pergantian patner mengajar, kebetulan yang mendapat amanah mendampingi anak A1 naik ke kelas B1 adalah saya tetapi dengan wali kelas berbeda. Dari awal wali kelas B1 menyerahkan saya dalam hal pengelolaan kelas dengan alasan sayalah yang lebih tahu tentang perkembangan anak A1. Dengan jumlah anak dari A1 sebanyak 22 ditambah lagi ada 2 anak baru pindahan dari luar dan 2 anak yang tinggal kelas sehingga semua berjumlah 26 (18 laki-laki dan 8 anak perempuan), tentunya menjadi tantangan tersendiri untuk mengelola kelas agar kondusif. Apalagi ada 2 anak special (hiperaktif dan temper tantrum) dan 2 anak yang masih tinggal kelas termasuk anak yang superaktif menjadikan kami berpikir keras mencari cara agar semua anak dapat terlayani dengan baik. Khusus untuk Alif karena memasuki kelas B sudah lebih mandiri maka perbaikan diarahkan ke perilaku hiperaktifnya. 
        Ada beberapa perilaku yang menjadi titik fokus untuk dikurangi/dihilangkan dan perilaku yang akan dikembangkan. Dalam teknik penanganan, penulis mengaplikasikan pendapat berdasarkan Sugiarmin (2005) berikut ini.

1. Menghilangkan atau mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki.
        Contoh beberapa perbaikan yang kami lakukan: 
• Ketika pembelajaran berlangsung, Alif diminta duduk didekat guru sehingga lebih mudah                   mengontrolnya. Ternyata ini membuahkan hasil, Alif bisa duduk sampai pembelajaran selesai             meskipun harus sering diingatkan ketika ia hendak pergi meninggalkan tempat. 
• Mendampingi dalam mengerjakan tugas sampai selesai, ketika merasa bosan guru memotivasi             dan memberi semangat agar mau bekerja sampai tuntas.
• Ketika kegiatan sholat belum bisa tenang (masih lari-lari) maka sholatnya harus diulang. Ini                 berlaku untuk semua anak dan sebelumnya sudah disepakati terlebih dahulu aturan tersebut.                Terbukti cara ini sangat efektif, di kelas B Alif mampu melakukan gerakan sholat dari awal                  sampai akhir meskipun matanya belum bisa fokus, masih tengak tengok kanan kiri. 
• Memberi kesempatan sesering mungkin pada Alif untuk menjadi imam sholat dan diberi tugas             memimpin cuci tangan. Ini dilakukan agar kepercayaan dirinya tumbuh.
• Mendengarkan cerita yang dilaminya dan memberikan umpan balik pada cerita yang                           disampaikan sehingga ketika ada masalah mampu diajak komunikasi mencari solusinya.

2. Mengembangkan tingkah laku yang dikehendaki.
       Perilaku positif tentunya harus dipertahankan dan dikembangkan untuk menjadi lebih baik. Maka perlu penguatan berupa kata-kata pujian maupun bentuk benda/hadiah. Ada beberapa upaya yang kami lakukan, yaitu:
a. Semua anak B1 waktu itu saya buatkan buku dari lembaran kertas HVS dengan cover foto                   masing-masing anak, diatas foto diberi judul “Aku Anak Hebat”. Buku itu digunakan sebagai             tempat menempel bintang yang terbuat dari kertas warna warni sebagai hadiah jika anak-anak             melakukan perilaku positif. Anak-anak semua bangga dengan buku tersebut, mereka sering                 menghitung berapa jumlah bintang yang didapat.
b. Untuk melatih keterampilan sosialnya, kelas B1 dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing              kelompok dipilih satu anak sebagai ketua yang bertugas memimpin anggotanya melaksanakan            tugas dari guru. Ketua kelompok tiap hari bergantian sehingga semua anak merasakan pernah              memimpin. Alif sengaja dicarikan kelompok yang didalamnya ada anak-anak yang sering mengejek    dan mengganggunya. Sebelumnya guru memberi pengarahan agar semua anggota kelompok                menghargai ketua kelompoknya. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membersihkan kelas   secara bergantian. Pada saat kegiatan pembelajaran, setiap ketua kelompok diberi tugas untuk             mengumpulkan hasil karya anggota kelompoknya. Apabila ada teman satu kelompok yang belum       bisa maka guru menyarankan untuk anak yang sudah bisa membantu temannya yang belum bisa.         Dengan metode kerja sama kelompok seperti ini menjadikan Alif lebih terampil bersosialisasi            dengan orang lain. Sejak duduk di kelas B, Alif sering dibawakan yakult dari rumah untuk    dibagikan ke semua temannya sehingga semakin memperkuat kepercayaan dirinya dan jiwa          sosialnya juga makin berkembang. Karena kemampuan bicaranya juga sudah meningkat, Alif sudah  bisa mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya, mau minta maaf apabila melakukan kesalahan  dan yang lebih hebat lagi ia sangat cepat mengenal flashcards (kartu bergambar yang ada kosa kata)  yang diperlihatkan guru. Ia hafal semua nama teman-temannya dalam satu kelas. 
Akhir semester 2 di kelas B berakhir, usia Alif saat itu masih 6 tahun tetapi orangtuanya bersikukuh untuk memasukkannya ke SD. Padahal kalau mau bersabar satu tahun lagi di TK pasti akan lebih baik lagi perkembangannya. Kami selaku guru sudah berusaha semaksimal mungkin mendampinginya dan hanya bisa mendo’akan semoga Alif kelak menjadi orang yang sholih, bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. aamiin

  

Manfaat Kegiatan Eksplorasi Alam

Ketika anak berada pada masa emas (0 - 5 tahun), otak anak mengalami perkembangan yang sangat dahsyat yaitu sekitar 80 %. Pada masa sensitif...

Popular Posts