Jangan Biarkan Anak Bermain Petasan

Setiap memasuki bulan Ramadhan, selalu diwarnai dengan aksi menyalakan petasan atau mercon oleh warga masyarakat terutama para remaja.

Suara duar duer duornya yang cukup memekakkan telinga pada waktu pagi usai sholat subuh itu selalu terdengar dari rumah hampir setiap hari.

Meskipun sudah banyak memakan korban akibat ledakan petasan, hal itu tidak membuat mereka jera. Bahkan semakin banyak saja kelompok remaja yang setiap pagi menyalakan petasan di jalanan.

Penjual petasan di pinggir-pinggir jalan pun kini juga semakin menjamur. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya dapat untung tanpa peduli bahwa dagangan yang dijual menimbulkan mudarat bagi pembeli.

Yaa..petasan rasanya sudah menjadi budaya di tengah masyarakat kita dan itu sudah di anggap lumrah seperti halnya merokok. Mereka tahu bahayanya bagi kesehatan tetapi tetap saja menikmatinya.

Biasanya orang akan tersadarkan setelah salah satu anggota keluarganya menjadi korban luka bakar petasan.

Seperti pengalaman tahun lalu, penulis punya seorang kawan yang punya anak usia kelas 3 SD. Dia sering membiarkan anak lelakinya bermain petasan bersama teman-temannya.

Naas bagi anak tersebut, jemari tangannya terkena ledakan petasan sewaktu akan memeriksa petasan yang beberapa menit sudah dinyalakan tetapi belum juga meledak.

Begitu dipegang, meledaklah petasan dalam posisi masih ditangan sehingga menimbulkan luka bakar amat serius dan langsung dibawa ke rumah sakit.

Akhirnya orang tualah yang menanggung pengobatan dengan biaya yang tidak sedikit.

Kabarnya setelah kejadian itu, anak tersebut berubah menjadi pendiam dan merasa tidak percaya diri lagi akibat 3 jarinya telah hilang di amputasi.

Kalau sudah begitu, siapa yang patut disalahkan? Penyelasan juga sudah tiada guna. Jemari anak itu tidak bisa dipulihkan seperti sedia kala.

Peristiwa tersebut sebaiknya kita jadikan pelajaran agar kita dapat menghindarkan anak-anak dan anggota keluarga lain dari bermain petasan.

Anak-anak sejak usia dini perlu sekali diberi penjelasan akibat bahaya petasan yang ditimbulkan meskipun hanya sekedar menonton.

Selain menghambur-hamburkan uang, petasan juga menimbulkan polusi suara, bikin kotor lingkungan dan dapat terkena resiko luka bakar.

Bagi orang tua yang mempunyai anak usia dini, moment Ramadhan seperti ini sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan ketat kemana anak pergi bermain.


Jangan biarkan anak-anak mendekati gerombolan remaja yang sedang menyalakan petasan. 


Mengapa?

Berikut penulis sampaikan beberapa alasannya:

➤ Anak usia dini punya sifat imitatif  atau suka meniru apa yang dilakukan orang-orang disekitarnya tanpa mengetahui dampak buruk bagi dirinya.


Awalnya anak mungkin hanya melihat dan mengamati aktifitas para remaja ketika menyalakan petasan. 


Tetapi lain waktu anak pasti akan penasaran dan ingin mencobanya sehingga merengek-rengek ke orang tuanya untuk dibelikan petasan.


Jika orang tua kurang paham tentang pendidikan anak maka tanpa pikir panjang pasti akan menuruti kemauan si anak dengan membelikan petasan ukuran kecil yang dirasa punya daya ledak rendah dan aman bagi anak.


Saat itulah anak merasa menang karena mendapatkan dukungan orang tuanya. 
Semakin bertambah usia si anak, pasti keinginannya juga semakin meningkat. 

Tidak hanya sekedar merengek dan menangis, tetapi disertai amukan yang membuat orang tua kewalahan untuk mengendalikan.


Anak seperti itu akan tumbuh menjadi remaja dengan karakter susah diatur, egois, suka membangkang, suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat, cuek dengan lingkungan dan kurang bertanggung jawab.


➤ Dapat mendatangkan bahaya pada diri anak

Hampir dipastikan para remaja yang menyalakan petasan biasanya tidak sendirian melainkan secara berkelompok. 


Remaja dari sisi emosionalnya masih sangat labil. Bisa saja terjadi ketika mereka ada masalah dengan kelompok remaja lain akhirnya berlanjut ke tawuran saling melempar petasan.

Situasi seperti itu sangat berbahaya bagi anak kecil yang berada di lokasi tawuran. Seorang anak yang niatnya hanya menonton justru tidak sengaja terkena lemparan petasan.

Petasan memang tidak hanya berbahaya bagi orang yang menyalakan tetapi juga dapat membahayakan keselamatan orang lain disekitarnya.

Maka kewajiban orang tualah mengawasi dan menjaga anak dari hal-hal yang dapat mendatangkan petaka. Motivasilah anak-anak agar melakukan kegiatan positif dan jauhkan mereka dari lingkungan yang tidak baik.

Kalau bukan ayah bundanya yang peduli..lalu kepada siapa anak mendapatkan arahan yang baik bagi dirinya?. Sementara lingkungan pergaulan remaja saat ini sebagian besar sudah melewati ambang batas kenakalannya.@trismiati

Jangan biarkan anak-anak membeli petasan


Apa yang bisa diharapkan dari generasi muda semacam ini?


Salah satu korban ledakan petasan
















Menjadikan Lingkungan Sekitar Sebagai Media Belajar Anak

"Anak-anak hari ini kita belajarnya di sawah yaaaa, siapkan botol minum kalian", kata bu guru dengan nada suara penuh semangat.

 "Horeee..horeee", sahut anak-anak kegirangan. Suasana kelas pun menjadi semakin gaduh dengan celotehan ungkapan kegembiraan mereka.

Anak yang awalnya diam, asyik main sendiri, bahkan ada yang baru bertengkar dengan temannya pun secara spontan perhatiannya tertuju pada ajakan bu guru.

Begitulah anak-anak, mereka sangat suka ketika diajak keluar kelas. Bagi kami yang berada di desa, lingkungan sekitar sekolah bagaikan laboratorium alam yang sangat menyenangkan sebagai kegiatan belajar mengajar.

Sekolah kami tergolong sangat "mewah" alias mepet sawah. Halamannya berupa hamparan sawah nan hijau dengan pemandangan gugusan bukit yang sangat elok dan nampak berdiri kokoh.

Angin semilir senantiasa menyapu wajah-wajah mungil penuh keceriaan, yang tak pernah lelah membina diri menjadi pribadi-pribadi sholih sholihah.

Belakang sekolah ada sungai, airnya jernih mengalir, berkelok-kelok menerjang bebatuan untuk menuju muara. Seakan-akan mengajarkan pada kami bahwa hidup seberapapun besar hambatan menghadang harus tetap dilalui dengan semangat pantang menyerah hingga mencapai puncak tujuan.

Sebelah utara dan selatan kami merupakan pemukiman penduduk dengan berbagai macam binatang peliharaannya yang sering kita jadikan juga sebagai media pembelajaran.

Ada kambing, sapi, burung, kelinci, merpati, peternakan ayam, dan tidak ketinggalan kolam lele kepunyaan Pak Abdillah. Beliau salah satu pengurus yayasan di lembaga kami, saat panen tiba sering berbagi lele ke anak-anak dan bu guru.

Di tengah pemukiman penduduk desa Gampingan Monggang, anak-anak juga banyak belajar tentang keterampilan sosial, adab kesopanan, berempati, saling berbagi dan berinteraksi dengan warga masyarakatnya yang ramah tamah.

Sekitar 200 meter dari sekolah ada situs candi Gampingan. Anak-anak suka sekali ketika diajak ke sana. Mereka belajar tentang sebuah jejak peninggalan sejarah agama Hindu.

Masih ada lagi lokasi di sekitar sekolah yang kami jadikan tempat belajar, seperti mushola mungil di ujung desa, tempat pembuatan batu bata milik warga, gardu ronda, bengkelnya pak Joni, kolam renang Gampingan, Posyandu, dan sebagainya.

Alhamdulillah lingkungan sekolah kami sangat kaya akan media dan sumber belajar. Penggunaan berbagai macam media dan sumber belajar tersebut akan menjadikan anak-anak termotivasi menggali benda-benda di lingkungan sekitarnya.

Anak yang terbiasa menggunakan alam dan lingkungan sekitar sebagai media belajar, kelak ketika dewasa akan lebih peka kesadarannya untuk memelihara lingkungan di mana dia tinggal.

Bagaimana dengan lingkungan sekitar rumah para pembaca? Pasti tak kalah menariknya bagi anak-anak usia dini. Asah rasa ingin tahu mereka melalui pengalaman bermain yang menyenangkan.

Ayah bunda bisa mengajak ananda menggalinya melalui berbagai macam aktifitas bermain penuh makna. Coba dan rasakan sensasinya...pasti ananda kegirangan dan akan berpaling dari aktifitas nonton TV atau mainan HP yang terbukti banyak sisi negatifnya.

Selamat bermain yaach...
Rindu berat menjadi guru kelas...😭@trismiati


Mengambil pelajaran dari kehidupan di sungai 
Berbagi sembako ke warga sekitar
Tarhib Ramadhan di masjid Gampingan
Memberi makan ikan lele
Menyapa petani di ladang
Menghirup udara segar di pagi hari
Berkreasi di alam terbuka
Berkunjung ke situs candi Gampingan











Pembelajaran Anti Korupsi Dengan Pengaktifan Executive Function Pada Anak Usia Dini

Ada 2 faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan korupsi, yaitu faktor yang berasal dari luar dan faktor dari dalam.

Faktor luar terjadi karena adanya kesempatan, sistem kurang mendukung dalam pemberantasan korupsi atau pengawasan yang sangat lemah.

Faktor dari dalam muncul karena ketidakmampuan seseorang mengendalikan keinginan tanpa batas. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup konsumtif dan materialistis.

Salah satu tindakan preventif atau pencegahan perilaku korupsi yaitu melalui pendidikan anti korupsi dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA bahkan sampai ke perguruan tinggi.

Penanaman nilai-nilai anti korupsi di lembaga pendidikan ini diharapkan dapat memutus mata rantai lingkaran setan korupsi yang saat ini makin merajalela khususnya di Indonesia.

Salah satu metode pembelajaran anti korupsi yang dapat diterapkan pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) usia 3-5 tahun yaitu melalui pengaktifan executive function.

Executive Function adalah kemampuan kognitif untuk fokus pada tujuan jangka panjang, misalnya menunda kesenangan sesaat (delay gratification) dan berlatih pada karakter terpuji seperti ketekunan, keteguhan, atau kegigihan dalam kehidupan.

Anak usia dini pasti punya banyak keinginan terhadap barang yang menjadi kesukaannya, misalnya permen, es cream, mainan, baju, dan sebagainya.

Biasanya ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak  akan menangis sehingga membuat orang tua tidak tega dan akhirnya memenuhi apa yang menjadi keinginan si anak.

Jika kondisi ini berlangsung terus menerus maka akan membentuk karakter anak bergaya hidup konsumtif, materialistis, malas bekerja, pengin hidup enak secara instan tanpa berusaha, dan tentunya tidak mampu menunda kesenangan sesaat.

Karakter-karakter seperti itulah yang akan dibawa sampai usia dewasa dan ketika ada kesempatan maka dapat terjerumus pada tindakan korupsi. Apalagi jika didukung oleh lingkungan pergaulan sosialita (senang berpesta pora dan foya-foya).

Anak usia dini belajar melalui bermain. Agar anak dapat menerima pesan-pesan nilai moral yang terdapat dalam kegiatan bermain, maka pendidik harus memberikan pengalaman bermain yang bermakna dengan memanfaatkan media pembelajaran.






Ada sebuah percobaan marshmallow stanford yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai kepuasan tertunda. 

Tujuan awal dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses mental yang membuat seseorang menunda kepuasannya saat ini untuk mendapatkan kepuasan yang lebih pada masa mendatang.

Mischel mengetes anak usia 4-5 tahun di TK Bing, mereka dibawa ke sebuah ruangan dan diberi sebuah marshmallow yang ditaruh di meja depan anak. Anak diperbolehkan makan mashmallow setelah 20 menit. 

Jika selama 20 menit mereka bisa bertahan maka Mischel akan menambah hadiah satu marshmallow lagi untuk dimakan.

Hasil dari percobaan ini adalah sepertiga dari anak-anak memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. 

Seperti apa reaksi anak-anak dalam mengikuti percobaan tersebut? Simak videonya di sini: 


Bagi ummat Islam, ibadah puasa merupakan sarana untuk melatih jiwa agar dapat menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan derajat ketaqwaan seorang hamba yang kelak akan berbuah syurga. 

Maka sangat tepat jika anak-anak mulai usia dini dilatih untuk berpuasa, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini pasti lebih mudah penerapannya. Sudahkah ayah bunda menerapkannya? @trismiati

Pembelajaran Anti Korupsi Pada Anak Usia Dini

Siapapun mengakui bahwa tingkat korupsi di Indonesia sudah sangat parah, mulai dari pejabat pemerintah tingkat daerah sampai pusat banyak yang sudah terjerat penyakit ini. 

Tidak hanya itu, bahkan sampai merambah para pejabat di lembaga legislatif, yudikatif, sampai ke lembaga penegak hukum semacam kepolisian dan Mahkamah Agung. 

Seakan-akan perilaku korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini karena tidak hanya dilakukan secara perseorangan tetapi secara bersama atau berjama'ah.

Korupsi dapat diibaratkan sebagai penyakit kanker yang apabila dibiarkan akan mengakar kuat dan dapat merusak peradaban suatu bangsa. 

Tidak akan pernah maju suatu bangsa apabila tingkat korupsinya masih tinggi.

Pemerintah sudah berupaya keras menanggulangi perilaku korupsi dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai di buat instruksi presiden (Inspres) No 5/2004 tentang percepatan pemberantasan korupsi.

Tatapi berbagai macam upaya yang telah dilakukan pemerintah sampai saat ini belum mendapatkan hasil maksimal. 

Bahkan terkesan kasus-kasus besar korupsi banyak yang berlalu tanpa ada kejelasan  proses hukum, seperti kasus BLBI, Century dan yang terkini kasus E-KTP.

Korupsi sudah menjadi sebuah lingkaran setan yang harus segera di putus mata rantainya melalui tindakan preventiv atau pencegahan dan kuratif atau penyembuhan berupa penegakan hukum secara tegas terhadap koruptor.

Salah satu tindakan pencegahan yaitu melalui pendidikan. 

Nilai-nilai anti korupsi berupa kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan perlu di tanamkan pada seluruh siswa siswi di semua jenjang pendidikan baik formal maupun non formal (PAUD).

Pendidikan anti korupsi yang diberikan disekolah harapannya dapat menyelamatkan generasi muda agar tidak menjadi penerus tindakan-tindakan korupsi generasi sebelumnya.

Tujuan dari pembelajaran pendidikan anti korupsi ini adalah:

1. Membentuk manusia yang mampu melaksanakan nilai-nilai anti korupsi dalam dirinya.

2. Mengenali dan memahami dampak buruk dari perilaku korupsi terhadap kepercayaan masyarakat dan kerugian negara.

3. Memiliki keberanian untuk melawan korupsi dimanapun berada.


 STRATEGI PEMBELAJARAN

Pendidikan memiliki posisi sangat penting dalam menyemai sikap nilai-nilai anti korupsi. 

Melalui pendidikan anti korupsi diharapkan mata rantai korupsi di negeri ini benar-benar bisa terputus sehingga dalam mewujudkan cita-cita bangsa ke depan dapat berjalan dengan lancar.

Strategi pembelajaran yang diterapkan tentunya sesuai dengan tahapan usianya. 

➤ Usia PAUD ( 3-5 tahun )      
 ⟹ Executive Function, Attentional Control, Cognitive Flexibility, dan Goal Setting

➤ Usia SD ( 6-12 tahun )       
 ⟹ Financial Socialization

➤ Usia remaja ( 13-21 tahun )  
Financial Skill Building


Khusus bagi anak usia dini (PAUD), pembelajaran anti korupsi ini di sampaikan melalui metode bermain. 

Strategi dan metode bermainnya secara lebih jelas akan penulis sampaikan pada edisi yang akan datang. @trismiati

Tulisan ini dirangkum dari kegiatan pelatihan "Literasi Keuangan Bagi Lembaga PAUD" yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi UNY pada tanggal 25 Mei 2018. 





Membangun Reputasi Lembaga Pendidikan Melalui Pelayanan Prima

Bagi lembaga pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, bulan Juni besok merupakan saat-saat membuka pendaftaran murid atau mahasiswa baru. 

Berdasarkan pengalaman-pengalaman tahun lalu, pasti ada lembaga pendidikan yang begitu mudahnya mendapatkan murid sehingga sampai menolak-nolak karena kuota sudah terpenuhi, tetapi ada juga lembaga pendidikan yang sangat kesulitan mencari murid meskipun sudah melakukan promosi besar-besaran baik melalui spanduk, leaflet, atau melalui media sosial.

Apa yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi? Reputasi...yaa itulah faktor utama sebuah lembaga pendidikan mudah mendapatkan murid atau sangat kesulitan mencari murid. 

Reputasi atau citra adalah suatu gambaran yang ada di dalam benak seseorang. Citra sebuah lembaga pendidikan yang awalnya bagus atau positif dapat berubah menjadi buruk atau negatif apabila kemudian ternyata tidak didukung oleh kemampuan atau keadaan yang sebenarnya. 

Sebuah lembaga pendidikan yang awalnya punya reputasi baik tetapi tidak melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas layanan maka suatu saat pasti juga akan ditinggalkan masyarakat. 

Sekarang ini, dengan adanya akses informasi yang begitu mudah dan cepat telah menjadikan orang tua lebih cerdas untuk memutuskan sebuah pilihan lembaga pendidikan bagi putra putrinya.

Sebagai pelaku di bidang pendidikan seharusnya segera mulai melakukan evaluasi apakah lembaga pendidikan yang dikelola selama ini sudah berhasil mendapatkan reputasi baik di mata masyarakat atau justru reputasi buruklah yang di dapat. 

Salah satu tolak ukurnya bisa di lihat dari perolehan siswa atau mahasiswa tahun-tahun lalu. Apakah sudah mencapai target atau tidak.

Membangun reputasi baik tidak mudah, perlu usaha keras dan peran serta dari semua pendidik, tenaga kependidikan, maupun pengurus yayasan khusus bagi lembaga pendidikan swasta. Mereka perlu melakukan koordinasi untuk merencanakan sebuah strategi agar lembaga pendidikan yang dikelola mendapatkan reputasi baik. 

Salah satu strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan pelayanan prima bagi konsumen, dalam hal ini murid atau mahasiswa yang secara langsung menerima jasa layanan pendidikan.

Pelayanan prima atau service excellence berarti pelayanan yang sangat baik atau pelayanan yang terbaik. 

Tujuan pelayanan prima adalah memberikan pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan  sehingga mereka merasa nyaman menempuh pendidikan di lembaga kita. 

Jika lembaga pendidikan ingin reputasi baik maka berikanlah pelayanan prima sehingga dapat membuat kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya lebih menggoda.

Bagaimana peran seorang pendidik?

Pendidik baik itu guru maupun dosen berperan sangat penting dalam upaya membangun citra sebuah lembaga pendidikan. 

Kenapa? Karena merekalah ujung tombak para pelaku proses pendidikan yang melaksanakan tugas pembelajaran. Bisa dikatakan bahwa mutu lembaga pendidikan ada di tangan pendidiknya.

Pendidik harus dapat menghasilkan output atau lulusan yang sesuai dengan visi misi lembaga pendidikan tempat dia mengajar dan  mampu mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang siap menghadapi persaingan hidup di masa datang.

Untuk mewujudkan hal itu, pendidik harus kreatif dalam melakukan proses pembelajaran yang dimulai dari merumuskan tujuan belajar, metode belajar, dan teknik serta evaluasi pembelajaran.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini harus disikapi dengan positif karena dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi proses pembelajaran. 

Pembelajaran yang monoton hanya dapat membuat anak didik merasa bosan sehingga materi yang disampaikan pun tidak bisa diterima dengan baik.

Pendidik juga dituntut harus dekat dan tahu lebih jauh tentang karakter masing-masing anak didiknya sehingga dalam proses belajar-mengajar akan tercipta suasana yang menyenangkan, pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan efektif. 

Anak didik yang antusias dalam belajar akhirnya akan menjadikan mereka pribadi yang unggul, percaya diri, kreatif, inovatif dan smart. 

Pribadi-pribadi seperti itulah yang merupakan hasil dari suatu pelayanan prima yang diberikan oleh pendidik dan dengan sendirinya akan memberikan keuntungan positif berupa reputasi baik bagi lembaga.

Pelayanan prima ini tentunya harus mampu diberikan oleh seorang pendidik yang sudah memiliki sertifikat pendidik. 

Dengan adanya penghargaan pemerintah berupa tunjangan sertifikasi bagi pendidik, harapannya mereka mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik dengan baik karena tenaga pendidikan yang sudah memperoleh tunjangan sertifikasi tersebut sudah dinilai profesional didalam membuat sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas. 

Jika ada lembaga pendidikan yang punya pendidik bersertifikat tetapi kok masih kesulitan mencari murid maka perlu sekali melakukan evaluasi kinerja pendidiknya.

Selamat menyambut tahun ajaran baru 2018/2019 dengan semangat menjadi lebih baik. @trismiati










Melatih Anak Berpuasa Sejak Usia Dini



Alhamdulillah saat ini kita dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan. Di bulan mulia ini setiap muslim yang sudah baligh (dewasa) dan berakal sehat diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh. Sedangkan untuk anak-anak yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa.

Sebagai orang tua tentunya ingin memiliki anak-anak yang sholih dan taat pada perintah agama. Hal ini dapat terwujud jika orang tua mau mendidik dan membimbing anak sejak usia dini agar senantiasa berlatih menjalankan berbagai macam kewajiban agama, salah satunya mengajak anak belajar berpuasa.

Anak yang sejak usia dini sudah berlatih puasa maka ketika baligh akan lebih mudah menjalankan kewajibannya untuk  berpuasa sehari penuh. Nah..mumpung masih bulan Ramadhan, sebaiknya anak mulai dilatih berpuasa.

Ada beberapa tips mengajak anak belajar puasa:

Jelaskan pada anak manfaat berpuasa

Sebelum melatih anak berpuasa, orang tua perlu menjelaskan terlebih dahulu pada anak apa itu puasa dan manfaatnya bagi tubuh. Sampaikan juga tentang pahala yang akan didapatkan ketika melakukan puasa dengan bahasa yang mudah dipahami anak.

Mengajak berpuasa sesuai kondisi dan kemampuan anak

Namanya juga melatih anak puasa, maka pelaksanaanya menyesuaikan kondisi anak. Buat kesepakatan dengan anak tentang waktu berbuka, apakah sampai jam 10.00 WIB atau jam 12.00 WIB. Tentunya dengan memperhatikan usia anak dan juga kondisi kesehatannya.

Jelaskan pada anak bahwa puasa bukan berarti tidak boleh makan minum tetapi hanya menunda waktu makan siangnya saja. Setelah waktu berbuka tiba, anak diperbolehkan makan minum tetapi nanti puasa lagi sampai jam 15.00 WIB. Pada saat jam 15.00, anak diperbolehkan makan minum lagi lalu puasa sampai maghrib. 

Apabila anak masih belum bisa bertahan, berikan mereka sedikit kelonggaran. Jika anak memang tidak kuat, biarkan mereka berbuka. Tetapi jika anak masih terlihat segar maka ajaklah anak menghabiskan waktu berbuka sampai asar. 

➤ Menciptakan suasana ceria dan gembira

Meskipun dalam kondisi berpuasa, orang tua harus menampakkan wajah ceria dan gembira di depan anak. Puasa bukan untuk malas-malasan. Berikan anak aktivitas bermain yang menyenangkan. Ajak anak mengikuti kegiatan buka puasa bersama di masjid agar anak bertemu dengan teman-teman sebayanya.

Buka puasa bersama menghadirkan kegembiraan pada anak

Beri penghargaan pada anak

Jika anak sudah mau belajar berpuasa maka hargailah usaha mereka dengan memberikan hadiah maupun kata-kata positif. Penghargaan juga bisa berupa menyediakan menu makanan berbuka sesuai kesukaan anak. Tentu anak akan lebih semangat belajar berpuasa jika orang tua memberikan penghargaan atas usaha anak mau berpuasa.

Melatih anak berpuasa sudah dilakukan para sahabat sejak jaman dahulu. Seperti dalam sebuah hadist di bawah ini:


عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ « مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ » . قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ
Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa.” Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)
Nah... kini saatnya orang tua melatih balitanya untuk berpuasa. Semoga lancar dan dimudahkan..aamiin.@trismiati


Melatih Anak Shalat Sejak Usia Dini

Shalat adalah tiang agama dan merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seorang muslim. 

Shalat juga merupakan amalan yang pertama kali dinilai kelak di yaumul hisab. Bagaimana dengan anak-anak? Mulai usia berapa dikenalkan shalat?

Anak merupakan amanah dari Allah SWT bagi ke dua orang tuanya, maka kewajiban orang tuanyalah untuk memberikan pendidikan agama diantaranya tentang sholat. Mendidik anak agar mau melaksanakan sholat tidak mudah. Butuh kesabaran, komitmen,  dan usaha keras.

Banyak orang tua saat ini yang tidak peduli dengan pendidikan anak terutama masalah sholat. Anak dibiarkan bebas bermain sampai mengabaikan waktu shalat. Tindakan seperti ini jika terus menerus dibiarkan akan menyebabkan anak ketika usia dewasa malas shalat. 

Ada juga orang tua dengan alasan karena sibuk bekerja akhirnya menyerahkan sepenuhnya pendidikan agama anak di lembaga pendidikan Islam. Padahal fungsi lembaga pendidikan hanya sebagai mitra kerja bagi orang tua dalam mendidik anak. Pendidikan utama dan pertama tetap terletak pada ke dua orang tuanya. 

Mengenalkan shalat sebaiknya di mulai sejak usia dini secara bertahap. Bagi anak usia dini yang paling penting penanaman pembiasaan dulu agar dapat tertanam kokoh dalam jiwa mereka. 

Ada beberapa kiat agar orang tua berhasil mengajarkan anak shalat, yaitu:

➤Berikan contoh langsung (keteladanan)

Anak usia dini suka meniru apa yang dilakukan orang-orang disekitarnya. Orang tua sebaiknya memberikan keteladanan berupa tindakan nyata. Ketika adzan berkumandang, bergegaslah untuk bersiap-siap melaksanakan shalat dengan mengajak serta anak. Jika orang tua punya sikap disiplin dalam shalat maka anakpun akan terbawa.


Anak meniru gerakan shalat (ilustrasi)

➤Mengajarkan tata cara shalat secara bertahap

Mengajarkan tata cara shalat pada anak usia dini harus bertahap dan berulang-ulang. Tidak bisa instan.

Pada usia 2-3 tahun kenalkan dulu gerakan-gerakan dalam shalat. Meskipun anak belum mampu meniru gerakan shalat secara sempurna tidak apa-apa, yang penting anak bersedia melakukan. 

Menginjak usia 3-4 tahun, selain mengajarkan gerakan juga dapat mengenalkan do'a yang harus di baca dalam shalat. Ajak anak mempraktekkan gerakan shalat sambil mengucap bacaan shalat dengan keras. Jika ini di ulang-ulang maka anakpun secara otomatis akan hafal bacaan do'a dalam shalat.

Rentang usia 4-6 tahun, tibalah saatnya orang tua menjelaskan tentang pentingnya shalat dan akibatnya apabila meninggalkan shalat dengan bahasa yang mudah dipahami anak.

Usia 7-9 tahun penekanannya pada tanggung jawab agar anak mau melaksanakan sholat 5 waktu. Masa ini, anak seharusnya sudah dapat melakukan tata cara gerakan shalat dengan benar dan sudah hafal bacaannya. Motivasilah mereka agar senantiasa shalat tepat waktu di masjid terutama bagi anak laki-laki.

➤ Berikan hukuman dan penghargaan

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :
مروا أولادكم بالصلاة و هم أبناء سبع سنين و اضربوهم عليها و هم أبناء عشر
Artinya:
Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud dan Al- Hakim)
Hadist diatas menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dengan tegas telah memerintahkan agar pendidikan shalat di mulai sejak usia dini yaitu usia tujuh tahun. Pada usia ini kemampuan akalnya sudah mulai berkembang secara bertahap.
Apabila sampai pada usia sepuluh tahun anak lalai mengerjakan shalat maka orang tua di anjurkan memberikan hukuman berupa pukulan. Maksud memukul disini tentunya pukulan yang tidak menyakitkan. Hindarilah memukul bagian tubuh seperti wajah, hidung, mata, dan sebagainya yang sekiranya dapat membahayakan anak.

Bagi anak yang sudah tertib melakukan shalat, orang tua perlu memberikan penghargaan baik berupa kata-kata positif maupun berupa hadiah. Hal ini akan semakin menguatkan jiwa anak sehingga dengan sendirinya timbul kesadaran akan melaksanakan shalat tanpa paksaan.

Demikian beberapa kiat yang dapat ayah bunda terapkan dalam mendidik anak tentang shalat. 

Setelah melakukan ikhtiar secara maksimal, maka do'a adalah senjata pamungkas agar apa yang sudah diupayakan mendapatkan hasil maksimal. @trismiati

Manfaat Kegiatan Eksplorasi Alam

Ketika anak berada pada masa emas (0 - 5 tahun), otak anak mengalami perkembangan yang sangat dahsyat yaitu sekitar 80 %. Pada masa sensitif...

Popular Posts