Belajar di Bumi Merapi

Mengenalkan lingkungan luar sekolah bagi anak sangat bermanfaat. 

Selain dapat menambah pengetahuan, anak juga kaya akan pengalaman. 

Banyak hal baru yang dapat ditemukan sehingga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu pada diri anak.

Salah satu lolasi yang dapat dipakai sebagai kegiatan program pengenalan lingkungan adalah Bumi Merapi.

Area seluas 6 hektar ini berada di jalan Kaliurang km 20 Sleman Yogyakarta.

Di lokasi ini banyak area yang dapat dimanfaatkan sebagai media belajar anak.

Pokoknya asyik dech, anak-anak pasti suka. Kapan-kapan ayah bunda bisa mengajak ananda ke lokasi wisata edukasi ini.

Di sana ada area binatang seperti kuda, kelinci, kambing, merpati, reptil, kijang, dan sebagainya.

Di area binatang ini anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan memberi mereka makanan.

Ada lagi area tanaman baik dengan media tanam tanah maupun hidroponik.

Pengin tau seperti apa kondisi di sana? Yuk lihat foto-foto di bawah ini.

Memerah susu kambing etawa
Memberi makan kelinci
Bermain dengan ular
Memberi makan kambing
Berinteraksi dengan kuda
Bercengkerama dengan merpati
Di area hidroponik








Menumbuhkan Minat Belajar Anak

Anak-anak sering merasa bosan mengikuti aktifitas kegiatan belajar di sekolah yang monoton, tidak kreatif, dan terkesan hanya itu-itu aja kegiatannya.

Rasa bosan pada anak bisa diamati dari perilakunya ketika guru mengajar. 

Ada yang asyik ngobrol dengan temannya, lari ke sana ke mari, bikin ribut, pokoknya gak fokuslah dengan apa yang disampaikan guru.

Ini sebuah tantangan bagi guru, jika tidak ada upaya perbaikan akan membuat anak merasa jenuh dan malas pergi sekolah.

Maka sangat penting bagi guru maupun orang tua untuk menumbuhkan minat belajar pada anak entah itu ketika di rumah maupun sekolah.

Khusus di sekolah, guru harus kreatif menyiapkan kegiatan dan media belajar yang menarik bagi anak. 

Agar pembelajarannya lebih bermakna, libatkan anak secara aktif dalam setiap proses kegiatan.

Salah satu kegiatan untuk mengenalkan anak pada sebuah profesi atau pekerjaan yang dilakukan orang dewasa yaitu jumpa tokoh dengan menghadirkan seorang pengusaha kue. 

Kegiatan ini sangat menarik bagi anak. Mereka dikenalkan dengan seorang pengusaha kue dan diberi penjelasan seputar profesi tersebut. 

Selain itu anak-anak juga diajak praktek caranya membuat kue mulai dari membuat adonan, membentuk, menghias sampai memanggang dalam oven.

Dari kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya kenal dengan pribadi tokoh tetapi dikenalkan juga aktifitas yang dilakukan sehubungan dengan profesinya.

Anak juga mendapatkan pengalaman berharga praktek membuat kue dan menikmati hasil karya buatannya. Hal ini dapat menubuhkan rasa percaya dirinya.

Semoga kegiatan ini mampu memotivasi anak untuk selalu semangat dalam setiap kegiatan pembelajaran dan dapat menumbuhkan jiwa wirausaha pada diri mereka. @trismiati


















Menanamkan Benih Karakter Melalui Jambore Anak Sholeh

Anak-anak sangat penting mendapatkan pendidikan karakter agar menjadi pribadi yang baik sebagai bekal mereka ketika telah memasuki dunia kerja.

Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang bermoral, cerdas, inovatif, suka bekerja keras, optimis, percaya diri, dan berjiwa patriot.

Salah satu bentuk kegiatan dalam rangka melaksanakan pendidikan karakter yaitu melaui jambore anak sholeh. 

Kegiatan yang dimotori oleh Forum Komunikasi Ustadz Ustadzah TPA Desa Wirokerten ini mampu menghadirkan suasana yang kental akan penanaman nilai karakter seperti religius, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat, menghargai prestasi, peduli lingkungan, tanggung jawab, serta cinta tanah air.

Kegiatan ini diikuti sekitar 230 anak-anak mulai dari usia TK sampai SMP yang terbagi ke dalam 23 kelompok atau khafilah dari unit TPA (Taman Pendidikan Al Qur'an) di Desa Wirokerten Kecamatan Banguntapan Bantul DIY.

Ada beberapa macam kegiatan dalam jambore anak sholeh yang baru pertama kali ini dilaksanakan yaitu perlombaan (tartil, tahfidz, khot Al Fatihah, sholat), tadabur alam, kreatifitas seni, dan beberapa macam permainan (game).

Selama dua hari peserta dimotivasi agar melaksanakan nilai-nilai ajaran Islam yang telah didapatkan selama mengikuti kegiatan pembelajaran di TPA mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Jiwa spiritual mereka pun ditumbuhkan melalui sholat wajib berjama'ah maupun sholat sunah (qiyamul lail dan sholat syuruk).

Tak ketinggalan juga menghadirkan Kak Aris yang dengan piawainya mendongeng dan bercerita seputar karakter anak Islam.

Semoga kegiatan tersebut bermanfaat bagi peserta sehingga termotivasi menjadi pribadi yang berkarakter atau berakhlak mulia.aamiin YRA@trismiati

Tanggung Jawab dan Peduli Lingkungan 
Mengasah Kreatifitas
Semangat Belajar
Menjalin Persahabatan
Menumbuhkan Sikap Percaya Diri
Menanamkan Rasa Cinta Tanah Air
Kebersamaan
Melatih Kekuatan Fisik Motorik
Sarana Melatih Kemandirian

Menyambut Tahun Baru Dengan Semangat Baru

Alhamdulillah kita telah memasuki tahun baru hijriah 1440 H.

Tidak seperti tahun baru Masehi dimana masyarakat dengan gegap gempita menyambut kehadirannya dengan pesta pora.

Tahun baru hijriah merupakan tahun baru ummat Islam yang seharusnya kita jadikan momentum untuk muhasabah atau evaluasi diri.

Dengan bertambahnya tahun tentunya jatah usia hidup kita jadi berkurang.

Apakah aktifitas yang sudah kita lakukan tahun-tahun lalu sudah membawa diri kita menjadi pribadi berkualitas?

Yaa kualitas dalam ibadah, maupun dalam bermuamalah dengan orang lain.

Jika dirasa belum mencapai kualitas yang diharapkan, marilah kita mulai merancang agenda peningkatan kualitas diri masing-masing.

Waktu yang berlalu tidak bisa kita ambil kembali sementara waktu esok pun belum tentu bisa kita raih.

Hanya waktu saat inilah kesempatan yang pasti ada di hadapan kita.

Marilah kita gunakan untuk meningkatkan kualitas diri dimulai dari hal-hal kecil yang sekiranya mudah dikerjakan.

Yang kemarin baru melakukan ibadah wajib, mulai sekarang menambah ibadah sunah seperti sholat dhuha, puasa senin kamis, tahajud.

Yang kemarin tadarusnya baru 5 lembar bisa ditingkatkan menjadi 1 juz per hari misalnya.

Selain kualitas diri pribadi, penting juga meningkatkan kualitas profesional kerja kita dengan menambah keterampilan baru.

Jaman berubah begitu cepat seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi sehingga jika pengin tetap survive kuncinya harus mau berubah, berubah, dan terus berubah.

Semangat merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik, berkualitas, dan bermanfaat bagi orang lain. @trismiati













Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Pembentukan Karakter Anak

Di era digital seperti sekarang ini, kita dihadapkan pada kenyataan yang amat memprihatinkan. 

Pesatnya perkembangan teknologi berimbas ke perilaku anak-anak yang cenderung negatif seperti keranjingan games, sulit konsentrasi, maupun malas dalam belajar.

Perilaku remaja pun juga semakin hari makin mengkhawatirkan. 

Mereka berani sekali mengekspresikan dan mengekspose perilaku kenakalannya seperti perkelahian pelajar, vandalisme, narkoba, tawuran, maupun pergaulan bebas melalui media sosial.
Pesta miras
Merokok
Tawuran
Balapan Liar
Nilai-nilai Ilahiyah yang semestinya tampil mewarnai setiap denyut kehidupan, kian hari tampak semakin tenggelam dan berganti dengan warna kehidupan yang materialistis, pragmatis dan hura-hura.

Anak-anak  tumbuh menjadi remaja yang susah diatur, daya belajarnya rendah, malas, serba instan, serta kurang peduli dengan lingkungan sekitar.

Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kondisi tersebut?

Semua elemen mulai dari orang tua, guru, masyarakat serta pemerintah seharusnya dapat menanggulanginya melalui tindakan-tindakan pencegahan.

Dari beberapa elemen tersebut, yang pertama berperan membentuk karakter anak adalah orang tua karena anak lahir dan tumbuh pertama kali di lingkungan keluarganya.

Maka sangat penting bagi orang tua memiliki bekal ilmu mendidik anak agar dalam menjalankan fungsinya selaku orang tua dapat berjalan dengan baik.

Karakter anak sangat dipengaruhi oleh orang dewasa yang ada disekitarnya dan orang tualah yang pertama kali menjadi sosok berpengaruh bagi pembentukan karakter anak.

Orang tua seharusnya dari awal mampu menabur benih-benih karakter yang baik pada anak sejak masih dalam kandungan sampai usia dewasa. 

Jangan sampai peran orang tua tersebut tergantikan dengan perangkat teknologi. 

Orang tua harus mengontrol dan mengawasi penggunaan teknologi terutama HP karena dapat berakibat buruk bagi pembentukan karakter anak.

Selain orang tua, guru juga berpengaruh dalam pembentukan karakter anak tetapi bukan sebagai peran utama.

Guru dan sekolah berperan sebagai mitra pembantu dalam memberikan bekal pendidikan anak-anak agar potensi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal.

Maka sebagai guru juga harus bisa menjadi tauladan bagi anak didiknya karena karakter guru akan berpengaruh juga terhadap pembentukan karakter mereka.

Empat kompetensi yaitu pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial harus melekat pada diri seorang guru.

Di era sekarang, guru pun dituntut harus menguasai teknologi agar dalam menyampaikan materi pembelajaran dapat menarik minat anak.

Kita tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi, tetapi kita harus bisa bersikap bijaksana memanfaatkan teknologi sebagai pendukung sarana pembelajaran.

Siapkah kita selaku orang tua dan guru menabur benih karakter pada anak di tengah tantangan jaman yang semakin berat saat ini? @trismiati












Keluarga Ibrahim Teladan Kita

Beberapa hari kemarin, ummat Islam melakukan ibadah qurban. 

Ketika darah terpancar dari leher hewan qurban, semestinya kita merenung kembali tentang hakekat qurban.

Jika hakekat qurban tidak tertangkap maka jadilah peristiwa itu hanya sekedar tradisi tanpa arti, mubadzir dan sia-sia belaka.

Apabila kita mengenang kembali sikap tulus Ibrahim AS yang mengorbankan anaknya tercinta Ismail dan disambut keikhlasan hati sang putera, terpancarlah sebuah teladan utama dalam kehidupan umat manusia. 

Sebagai seorang ayah yang telah lama merindukan kehadiran anak dari pernikahannya dengan Hajar hingga Allah SWT pun akhirnya mengabulkan do'anya dengan kelahiran Ismail tiba-tiba harus dikorbankan demi melaksanakan perintah Allah SWT.

Ismail yang menjelang dewasa tiba-tiba diperintahkan mengorbankan dirinya, tentu itu juga sebuah perintah yang sangat berat karena selain akan mengakibatkan kematian dirinya juga akan meninggalkan ayah ibunya yang sangat dia cintai.

Di lain pihak, bagaimana perasaan Hajar sebagai seorang ibu yang telah bersusah payah mengandung dan membesarkan permata hatinya, tiba-tiba harus mengorbankannya?

Secara manusiawi tentu tugas itu amat berat tetapi buat keluarga Ibrahim AS, hal itu adalah merupakan suatu kebahagiaan dan kemuliaan.

Keluarga Ibrahim AS justru menyambut tugas tersebut dengan suka cita, lantaran berkesempatan mengorbankan sesuatu yang paling berharga baginya untuk Allah SWT.

Rasa suka cita yang dialami keluarga Ibrahim AS untuk berkorban dilandasi atas pemahaman yang benar tentang nilai kehidupan. 

Mereka menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Allah, menjadi milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Sebagai umat Islam kita pun semestinya punya prinsip seperti itu. 

Suami tampan, istri cantik, anak-anak yang manis, harta melimpah, pangkat dan jabatan tinggi semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Begitu juga tentang kematian, meninggalkan dunia lantaran tunduk dan berjuang untuk agama Allah adalah meninggalkan yang sementara untuk menuju yang abadi. 

Meninggal dengan cara seperti itu  dinamakan mati syahid dan itu seharusnya menjadi cita-cita tertinggi seorang mukmin.

Keluarga Ibrahim AS telah memberi contoh kepada kita bahwa seorang mukmin harus mendahulukan kepentingan Allah di atas kepentingan pribadi dan keluarganya, seperti Firman Allah SWT dalam Q.S At Taubah 24 yang artinya:

"Katakanlah : jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah pemukiman yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya."

Fenomena kehidupan saat ini dimana seorang ayah lebih mengutamakan kepentingan istri, anak, maupun keluarganya sudah banyak kita jumpai di lingkungan sekitar kita.

Misalnya, ketika diminta menjadi donatur kegiatan keagamaan merasa berat, tetapi ketika anak istri minta dibelikan barang-barang kesukaan langsung dikabulkan betapapun mahalnya.

Lebih tragisnya lagi kalau seorang ayah menggunakan kekayaannya hanya untuk sekedar berfoya-foya memuaskan hobynya, tentu waktunya pun akan terbuang sia-sia tanpa manfaat.

Padahal dalam kehidupan yang semakin berat seperti saat ini, pengorbanan kita dalam menegakkan agama Allah  sangat terbuka luas di berbagai bidang kehidupan.

Kita dapat berkorban menggunakan harta kekayaan untuk mendukung kerja dakwah seperti membangun masjid, sekolah, rumah tahfidz, dan sebagainya.

Bisa juga menginfakkan harta buat saudara-saudara kita korban gempa Lombok atau yang lain.

Bagi yang dari segi kekayaan sangat terbatas, bisa mengorbankan waktu, tenaga, maupun pikiran bagi perkembangan lembaga-lembaga sosial dan dakwah  yang ada.

Sekecil apapun peran kita jika dilakukan hanya demi meraih ridho Allah dan diiringi dengan kebenaran sesuai syari'at Islam, Insya Allah akan dihitung sebagai amal sholih.

Siapkah keluarga kita mengambil teladan dari pengorbanan keluarga Ibrahim?
@trismiati








Pentingnya Menanamkan Sikap Sportivitas Pada Anak Usia Dini

Kemeriahan dalam menyambut HUT RI ke 73 sangat terasa hampir di setiap wilayah Indonesia. 

Mulai dari anak-anak sampai orang tua menyambut kegiatan 17 an ini dengan suasana gembira.

Berbagai macam kegiatan diadakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan ini seperti kerja bakti pasang bendera, tirakatan, upacara, pentas seni, dan tak ketinggalan berbagai macam perlombaan.

Selain dapat sebagai ajang untuk bersilaturahmi antar warga, kegiatan lomba juga bisa dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik khususnya bagi anak usia dini.

Anak usia dini belajar melalui bermain sehingga mereka akan senang sekali ketika di kampung maupun sekolah ada ajang permainan yang dilombakan.

Salah satu nilai karakter yang bisa ditanamkan pada diri anak melalui kegiatan perlombaan yaitu sikap sportivitas, yaitu sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan) lawan atau kekalahan (kelemahan) sendiri.

Sikap ini penting ditanamkan pada anak sejak usia dini agar kelak ketika dewasa dapat bersikap bijaksana menghadapi kemenangan maupun kekalahan.

Jika sikap sportivitas ini sudah tertanam pada diri seseorang maka ketika mengalami kemenangan akan merayakannya dengan sewajarnya dan apabila kalah akan termotivasi untuk berusaha lebih keras lagi.

Anak juga akan tumbuh menjadi pribadi tangguh, mudah beradaptasi, mengenal kelebihan dan kelemahan diri, mau mengakui kesuksesan orang lain, semangat, pantang menyerah, serta memahami sebuah arti perjuangan.

Anak yang tidak sportif jika mengalami kekalahan akan selalu menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya, mau menang sendiri, dan terdorong berbuat curang. 

Hal ini jika dibiarkan akan berdampak pada cara anak membangun relasi atau hubungan dengan orang lain. 

Nah..tunggu apalagi, ayo dorong ananda agar mau mengikuti perlombaan yang ada, apapun hasilnya yang penting mereka happy.@trismiati


Keceriaan anak KB-TKIT Ar Raihan Piyungan dalam HUT RI ke 73



















Manfaat Kegiatan Eksplorasi Alam

Ketika anak berada pada masa emas (0 - 5 tahun), otak anak mengalami perkembangan yang sangat dahsyat yaitu sekitar 80 %. Pada masa sensitif...

Popular Posts