Cintaku Terpaut Di PAUD (episode 4)

Menempuh pendidikan di jurusan yg tidak berdasarkan bakat dan minat bisa berdampak pada aspek psikologis berupa rasa sedih, marah, kesal, semangat belajar menurun maupun perasaan tertekan. Jika mengalami kondisi seperti itu, dipastikan sekolah atau kuliah jadi malas dan daya belajarnya juga rendah.

Begitu juga yang saya alami waktu itu. Selama satu tahun menjalani kuliah di jurusan akuntansi terasa "bete" maksimal. Selain kuliah, saya juga berusaha aktif ikut kegiatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) berupa kajian-kajian keislaman.

Hal itu tidak membuat semangat belajar saya tumbuh. Kegiatan di LDK hanya monoton seperti itu-itu saja sehingga sangat sepi peminat. Apalagi mahasiswi yang aktif mengikuti kebanyakan yang sudah pakai jilbab, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari alias sedikit sekali.

Materi kajian yg pernah saya ikuti tentang larangan pacaran, pentingnya berdakwah, maupun hal-hal seputar muslimah. Nilai-nilai keislaman itu kebanyakan sudah pernah saya dapatkan ketika sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Yogya. Khusus tentang larangan pacaran, itu saya pegang kuat sehingga waktu dapat kiriman 2 surat cinta dari teman remaja masjid dan teman SMA pun tidak saya balas.

Masa kuliah tahun pertama punya teman dekat namanya Endang Sulistyowati dari Salatiga. Tugas-tugas kuliah sering saya kerjakan bersama dia di tempat kosnya belakang kampus. Jika libur saya sering main dan menginap ke Salatiga. Rumahnya di daerah perbukitan, masih sangat alami dan saya sangat suka suasana seperti itu.

Dia juga sering main ke rumah sehingga ortu pun tahu kalau saya punya teman akrab dia. Meskipun akrab, pertemanan kami baru sebatas ke hal-hal yang berhubungan dengan urusan kuliah. Ketika punya masalah pribadi di luar kuliah, saya lebih nyaman menuliskannya ke buku diary dan mencoba cari solusi sendiri.

MEMASUKI KULIAH SEMESTER 3

Waktu itu saya bersama Endang selesai mengikuti salah satu mata kuliah, kami berjalan menuruni anak tangga dari ruang kuliah lantai 2 menuju lantai 1. Begitu sampai ke lantai 1 mata saya tertuju pada sebuah pengumuman yang sangat jelas terbaca. Judulnya "Pendakian Massal Gunung Lawu".

Secara spontan saya bilang ke Endang "Ayo Ndang melu iki". Endang nampak kaget dengan ajakan saya. Dia menjawab "Lhoh Tris...kowe pengin melu thoh ? Tak pikir nek wis nganggo jilbab ki ra seneng kegiatan ngene kie, jane aku wis suwe pengin melu MAPALA tapi kelase dewe kok ra ono sik melu". Saya jawab, "Yo wis ayok ndaftar wae. Kanggo refreeshing..tombo strees...aku rasane wis bosen banget kuliah".

Akhirnya saya dan Endang ke sekretariat MAPALA untuk daftar. Ada surat rekomendasi yang harus di tanda tangani ortu. Saya di tanya oleh panitia tentang motivasinya ikut MAPALA. Saya jawab dengan mantap,"pengin melatih mental".

Selang beberapa hari Endang sudah membawa surat ijin dari ortunya. Sementara saya belum, harus melalui proses yang berbelit-belit. Waktu itu bapak tidak langsung kasih tanda tangan.

Ketika surat rekomendasi itu saya tanyakan lagi ke bapak, beliau membaca kembali dan tertegun lama sekali. Bapak bilang "melu kegiatan kie oleh tapi mbok sik ora berbahaya". Adik saya yang laki-laki menimpali " Cah wedok kok melu ngono kui ! Mbak Tris nek dikandani wong tuo ora usah ngeyel".

Mendapat perlawanan seperti itu saya bilang akan berhenti kuliah kalau tidak di ijinkan. Bapak akhirnya dengan berat hati menandatangani surat tersebut dan menasehati agar selalu berhati-hati dalam pergaulan dan kuliahnya jangan sampai keteteran. Rasanya waktu itu seneng banget..mak nyesss..Saya jawab "tenang pak...Insya Allah amanah tak pegang..maturnuwun".

Mungkin kondisi jiwa petualangan saya waktu itu memberontak pengin di salurkan karena selama SMA dan kuliah tahun pertama sempat tersumbat, "full" menjadi "anak rumahan".

Ibu pun akhirnya juga mendukung kegiatan saya dì luar kuliah dan hanya berpesan agar kuliah dan kerjaan rumah tidak sampai terbengkalai.

Akhirnya saya dengan Endang daftar jadi anggota MAPALA. Kegiatan pertama adalah pendakian massal ke gunung Lawu. Pendakian pertama ini cukup membuat saya terpesona karena berhasil mencapai puncak. Waktu itu lagi mekar-mekarnya bunga edelweiss yg berwarna warni sehingga pemandangan puncak Lawu sangat indah sekali. Pengalaman pertama yg luar biasa...

Kegiatan selanjutnya sebagai calon anggota baru harus mengikuti DIKLATSAR selama 6 hari di Kalikuning. Kita di kasih materi tentang kode etik pencinta alam, navigasi darat, survival, kepedulian lingkungan, reypling, mountainering, tali temali, SAR, dsb.

Tahap tiga harus mengikuti susur pantai dan selanjutnya ikut pendakian ke gunung Merbabu untuk pelantikan. Saya dapat penghargaan sebagai peserta putri yang mencapai puncak nomor 1.
  Pelantikan di Puncak Merbabu

Melihat saya ikut MAPALA, ada reaksi kontra dari teman-teman LDK. Mereka menyayangkan keputusan saya. Ada 2 teman menemui saya,"Tris..kamu itu kan udah pakai jilbab..kenapa ikut MAPALA sich? Apa manfaatnya? Itu menyalahi fitroh kita sebagai wanita lhoh". Saya hanya membalas dengan senyum dan berlalu. Toh kalau saya jelaskan alasannya juga mereka gak bakalan paham dan setuju.

Lain waktu di tanya lagi,"Tris...kalau berada dipuncak gunung ngapain? Foto-foto yaa?". Setiap di tanya seperti itu saya hanya senyum dan berlalu meninggalkan mereka. Tetapi setiap ada kegiatan kajian LDK masih sering ikut.

Teman-teman sekelas yang laki-laki juga meledek, setiap ketemu saya atau Endang selalu berucap,"salam rimba !". Sampai Endang bilang,"Tris..kok konco-konco sajak kepiye awake dewe melu MAPALA. Aku dadi pekewuh nek ketemu". Saya jawab,"cuek wae Ndang rasah di pikir! awake dewe kan ora ngrugekke konco".

Pandangan teman-teman ke kegiatan MAPALA memang sangat negatif. Mungkin karena penampilan sebagian besar para anggotanya yg terkesan"liar dan urakan". Ciri khasnya rambut gondrong, celana jeans sobek-sobek, perokok berat, suka mabok, kuliah gak lulus-lulus plus sering nongkrong di pos satpam. Itu yg terlihat, pada hal tidak semua anggota seperti itu. Karena anggota putri yg berjilbab cuma saya sehingga mungkin waktu itu terkesan aneh di kalangan teman-teman.

Saya terinspirasi oleh sebuah majalah Islam Tarbawi yg membahas tentang obyek dakwah yang harus di garap. Judul head linenya "Berbaur Tetapi Tidak Lebur". Di jelaskan bahwa dakwah harus menyentuh di semua elemen masyarakat. Saya pun ingin membuktikan, meskipun bergaul dengan teman MAPALA tetapi tidak akan terbawa arus, justru sebisa mungkin akan mencoba mewarnai.

Hal itu terbukti ketika di bulan Ramadhan ada kegiatan yg diadakan oleh LDK justru teman-teman MAPALA yg meramaikan. Saya selalu memotivasi ke teman-teman agar hidup yg hanya sekali ini jangan sampai di sia-siakan dengan perilaku negatif.

Ada perbedaan yg menganga antara dua organisasi kemahasiswaan tsb. Teman-teman MAPALA punya jiwa sosial tinggi sementara teman-teman LDK dalam bergaul terkesan sangat eksklusif sekali. Saya yg berada di dua komunitas tersebut mencoba untuk mencari sisi-sisi positifnya saja.

Karena anggota MAPALA sangat beragam, berasal dari beberapa daerah dan dari berbagai macam latar belakang agama, suku dan budaya membuat saya harus belajar untuk beradaptasi.

Di sinilah saya mendapatkan ketrampilan hidup di tengah-tengah perbedaan. Saya belajar untuk toleransi, empati, tanggung jawab, kerjasama, tolong menolong, peduli, kerja keras, optimis, memotivasi diri dan tidak mudah menyerah.

Keterampilan sosial saya pun tumbuh dan berkembang secara alami melalui kegiatan di alam terbuka,  bukan di ruang-ruang kuliah.

Di lingkungan MAPALA biasanya setiap anggota punya nama panggilan khusus seperti lumut, badak, cempe, bu bangun, Mr Bean, srundeng, klowor, dsb. Tidak lengkap rasanya kalau tidak punya nama panggilan.

Mungkin karena saya dipandang suka membantah maka dapat julukan Boncel, nama tokoh dalam sandiwara radio yg berkarakter "ngeyel" dan punya perawakan kecil. Saya sendiri merasa bahwa itu bukan sikap "ngeyel" tetapi suatu keteguhan sikap.

Saya memang sering mengkritisi hal-hal yg kurang baik dari segi agama, misal: jangan sampai meninggalkan sholat meskipun berada di hutan, kalau tidur dibuat terpisah antara putra dan putri, kaos seragam dibuat lengan panjang, ketika upacara di puncak harus diselipkan do'a, dsb.

Ketua MAPALA waktu itu mas Dwi yg biasa di panggil "srundeng". Beliau sosok senior yg sangat perhatian pd anggota. Beberapa masukan dari saya pun di terima. Beliau jg yg sering membangunkan saya untuk sholat subuh. Biasanya saking capeknya jalan, saya sering ketiduran sampai pulas. Ketika niat kita baik ternyata Allah pun mempertemukan kita dengan orang baik.

          Di lereng Merapi 
            (Mila, mas Jito, mas Dwi, saya & Endang)

Semenjak ikut MAPALA itulah saya jadi semangat kuliah dan gairah belajar tumbuh sehingga timbul dorongan untuk mencintai jurusan akuntansi. Ketika ada tugas dan merasa kesulitan, saya tanya ke teman-teman yg sudah paham. Sering saya main ke tempat kos mereka hanya untuk sekedar minta di ajari materi yg belum paham.

Menapaki hari tanpa dinamika bagi saya memang sangat membosankan. Dengan ikut MAPALA maka hidupku jadi penuh warna. Ada saatnya serius memahami materi kuliah tapi ada saatnya rehat mengendorkan urat syaraf melalui kegiatan alam bebas.

Mungkin itu yg dinamakan keseimbangan fungsi otak kanan dan otak kiri sehingga hidup menjadi lebih hidup. Hampir setiap ada tanggal merah pasti buat agenda mendaki, entah itu ke Merapi, Merbabu, Lawu atau gunung lain. Selain itu jg mengadakan kegiatan sosial seperti donor darah, bakti sosial ketika ada bencana maupun bersih gunung. Waktu itu saya merasa telah menemukan diri saya yg asli hadir kembali.

       Puncak Selamet

                                                                       Puncak Welirang

         Puncak Semeru
         Bersama Rahmi & Uwik

Selama aktif di MAPALA, dua kali saya di ikutkan lomba lintas alam. Yg pertama di Magelang dapat juara 2. Yg ke dua lomba lintas alam tingkat nasional di Cibodas dengan rute Geger Bentang, Gunung Putri-Gede- Pangrango selama 5 hari. Lomba ini di adakan oleh Green Ranger dalam rangka memperingati meninggalnya Soe Ho Gie seorang aktivis di era Presiden Soekarno yg meninggal di lereng Semeru.

Peraturan lomba tersebut sangat ketat penilaiannya dan banyak kelompok yg gugur ditengah jalan. Baru etape pertama Endang mengalami keseleo kaki sampai bengkak sehingga sebagian barang bawaannya saya bawakan dan jalannya juga harus di bantu. Tetapi berkat usaha keras, semangat, kerjasama dan do'a akhirnya kami dapat melewati semua etape. Kelompok saya berhasil meraih juara 3 kategori peserta putri.

Selain tropy, kami juga dapat medali dan uang pembinaan. Pulang lomba mampir jalan-jalan ke kota Bandung dan mas Dodo kakak senior bilang,"kalian mau minta hadiah apa?". Endang jawab,"manut Tris wae mas soale deweke sik paling rekoso". Saya bilang kalau pengin sekali punya tas pinggang. Akhirnya kita bertiga dibelikan tas pinggang kembar warna coklat.

                                                         Padang Savana Gunung Pangrango

Sejak aktif di MAPALA, kegiatan bikin kerajinan kristik berhenti total karena bapak meminta saya membantu mengelola usahanya. Saya diminta mencatat administrasi, nyiapkan kuitansi dan menerima setoran uang dari tenaga loper (antar koran). Untuk pekerjaan ini bapak selalu ngasih honor ke saya di luar uang saku. Uang tersebut yang sering saya gunakan untuk membiayai kegiatan di MAPALA.

Selain aktifitas kampus, saya juga mulai aktif di organisasi muda-mudi kampung, BKPRMI Kecamatan Banguntapan dan Karangtaruna Kelurahan Banguntapan. Sebagai anak Dukuh, waktu itu juga wajib mengikuti pembinaan politik yg biasanya di isi oleh bapak Lurah. Semua anak-anak pamong desa di arahkan untuk mencoblos Partai Golkar. Saya pun selalu hadir setiap ada pembinaan semacam itu.

Dengan aktifitas berorganisasi sepadat itu, sempat berpikir untuk minta di belikan motor dan komputer. Tapi mengingat komitmen saya untuk tidak membebani ortu maka saya tepis keinginan itu semua.

Saya mencoba menggunakan fasilitas yg ada. Kuliah masih tetap pakai sepeda federal dan untuk urusan ketik mengetik pakai jasa rental komputer. Kalau ada motor nganggur punya bapak atau adik baru saya pakai. Adik laki-laki saya yg sering sewot dan mengeluh,"Mbak Tris nek nganggo motor waton ngglinding..ra tau gelem mbesuti ro nukokke bensin". Akhirnya dia minta ke ortu untuk ganti motor king..yah saya hanya bisa gigit jari.

#ibroh ketujuh: Beri kesempatan pada anak untuk mengembangkan diri melalui kegiatan berorganisasi. Hal ini akan mempermudah anak menemukan potensi dirinya. Anak pun akan memiliki "soft skill" yg sangat berguna untuk bekal hidupnya.

Alhamdulillah waktu terus berjalan dan tidak terasa masa kuliah pun berakhir. Saya lulus dengan memperoleh IPK 3,46. Waktu itu bapak menawarkan untuk melanjutkan ke jenjang S1 tetapi saya tidak mau. Saya minta ijin untuk merantau cari kerja di wilayah Jabotabek karena banyak teman kuliah yg pada ke sana termasuk Endang.

Tetapi ke dua ortu tidak memberi ijin. Bapak bilang,"wis mbantu aku wae ngurusi koran". Dalam hal ini saya tidak berani menentang. Yaa..rasanya iri lihat teman-teman begitu mudahnya dapat ijin ortunya merantau ke luar daerah.

Akhirnya saya coba melamar di pabrik kenalpot sebagai administrasi keuangan. Tidak sampai setahun pabriknya gulung tikar terkena imbas krisis moneter.

Dalam waktu bersamaan, bapak merintis usaha warnet yg lagi booming saat itu dan menyewa sebuah kios di daerah Kotagede. Saya di minta bapak untuk jaga warnet tersebut sambil tetap membantu mencatat administrasi usaha agen surat kabar.

Saya bantu mengelola warnet hanya bertahan 2 tahun. Saya merasa kalau bekerja ikut ortu kurang ada tantangannya karena berada dalam zona nyaman. Saya bilang ke bapak kalau mau cari pengalaman bekerja memanfaatkan ijazah, kebetulan waktu itu ada info lowongan di PT SSU milik Muhammadiyah. Saya coba daftar sebagai staff accounting dan di terima.

Selama bekerja di PT SSU sering bertemu para tokoh Muhammadiyah seperti Bapak Syafi'i Ma'arif, Bapak Sukriyanto putranya Pak AR Fahrudin, Pak Haidar Nasir, dll yg menjadi komisaris perusahaan tersebut. Meskipun status saya sebagai staff accounting tetapi prakteknya sama direktur sering di beri tugas tambahan.

Ketika ada perekrutan karyawan, saya di minta bantu manajer bagian SDM, ketika sekretaris tidak masuk saya yg di minta bantu mengetik surat-surat, kalau bagian swalayan ada karyawan yg tidak masuk, saya juga yg di minta lembur sampai malam menemani kasir. Pernah saya di perbantukan ke bagian pembelian barang melayani para sales. Para sales sering komplain karena tagihan tidak lancar dan saya yg harus menghadapinya.

Dengan pola kerja seperti itu membuat saya merasa di perlakukan tidak adil karena sebenarnya ada karyawan lain yg juga bisa di perbantukan. Saya mengkritisi kebijakan direktur tetapi malah kena marah. Direkturnya dari latar pendidikan Filsafat sehingga saya sering di buat pusing tidak bisa memahami jalan pikirannya.

Kalau perusahaan akan di audit, semua bagian accounting pada sibuk membuat laporan keuangan yg di perlukan beserta semua bukti transaksinya. Saya paling pusing kalau menghadapi audit.

Akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri. Hari pertama saya tidak kerja, bapak tanya,"kok ora mlebu kerjo ki prei po Tris?". Saya jawab,"kulo pun mengundurkan diri pak, mumet kerjo ten bagian keuangan". Bapak bergumam,"wong liyo wae kangelan golek gawean, kok kowe sik wis kerjo malah metu".

Selanjutnya saya melakukan kontrak kerja dengan BPS sebagai tenaga listing. Sebagai petugas listing, saya sering ke lapangan mencari data yg di butuhkan. Banyak hal yg saya temui ketika melakukan pendataan, pernah saya di kira sales sehingga orang tidak mau membukakan pintu. Pernah juga mendata ke keluarga Nasrani, ketok-ketok pintu yg keluar anjingnya hingga saya di kejar-kejar.

Pak Mulyono selaku fasililator BPS pesan,"Mbak Tris di tlateni mawon leh kontrak kerja ten BPS, biasane nek kantor buka lowongan sik di utamakan petugas listing". Saya tanya,"nek ten kantor kerjone nopo pak?". "Entry data ke komputer," jawab Pak Mulyono. "Walaahh mboten minat pak", jawab saya.

Kontrak kerja di BPS selesai, saya mencoba melamar di LSM MPI (Mitra Pendidikan Indonesia) sebagai part time trainer. Info tersebut saya dapatkan melalui surat kabar KR. Syarat yg dibutuhkan: pendidikan minimal D3, punya pengalaman organisasi, sanggup bekerja keras, dan menyukai tantangan.

Berdasarkan tes tertulis dan wawancara akhirnya saya lolos. LSM MPI ini sasaran programnya para pemuda putus sekolah yg di latih untuk berwirausaha. Mereka di bentuk kelompok-kelompok sesuai wilayah.

Saya begitu menikmati kerja di LSM. Tugas saya melakukan pendampingan ke kelompok binaan yg mendapatkan modal usaha.

Banyak ilmu yg diperoleh karena para trainer di bekali pengetahuan seputar pendampingan. Kita juga sering mendapatkan pelatihan-pelatihan. Kalau melakukan pendampingan waktunya menyesuaikan kelompok binaan dan seringnya malam hari. Pulang malam sampai jam 11-12 hal biasa bagi saya yg waktu itu masih single.

Setelah menikah, aktifitas keluar rumah mulai saya kurangi karena beberapa hal. Salah satunya karena ortu sering menanyakan ikhtiar saya dan suami yg sampai 3 tahun belum jg dapat momongan. Keponakan saya yg masih SMA saat itu berkomentar,"makane...nek karo cah cilik ki sik gemati". Kalimat tersebut membuat saya "mak jleb"..benarkah ? @trismiati









Cintaku Terpaut Di PAUD (episode 3)

Perubahan perilaku seseorang merupakan suatu proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan di mana dia bergaul.

Proses perubahan perilaku tersebut pada hakekatnya adalah proses belajar. Ketika seseorang mengalami perubahan perilaku menjadi lebih baik maka bisa dikatakan bahwa dia berhasil dalam belajarnya. 

Masa remaja (usia SMA) dipandang sebagai masa di mana anak berada pada tahap yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. 

Ketidakjelasan ini karena anak  sedang berada dalam masa transisi dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. 

Pada masa ini anak membutuhkan lingkungan sosial yang dapat menjadi media pengembangan dirinya.

Di lingkungan sosial anak terutama teman-teman sekolahnya kadang timbul masalah berupa penolakan di karenakan ada perbedaan minat dan kebiasaan. 

Ketika teman-teman lingkungan sosial atau komunitasnya cenderung berperilaku negatif maka anak pun akan sangat mudah terpengaruh karena dia butuh pengakuan.

Pada masa SMA, anak juga mengalami banyak masalah terutama terkait konsep diri. Mereka kadang bingung belum dapat menemukan konsep dirinya sehingga potensi yang dimiliki tidak berkembang maksimal. 

Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkah laku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dari keseluruhan perilakunya. 

#Ibroh kelima : Orang tua perlu menjalin komunikasi intensif dengan anak yang sudah mulai memasuki usia remaja. Jika komunikasi baik pasti akan terjalin hubungan yang harmonis antara ortu dengan anak. Ketika terjadi masalah pada anak, pasti anak merasa nyaman "curhat" pada ortunya. Tidak mencari pelarian di luar lingkungan keluarganya. Maka sangat penting bagi ortu untuk menjadi sahabat bagi anak.

Pada episode lalu sudah saya ceritakan adanya suatu peristiwa yang membawa saya pada perubahan perilaku. Meskipun proses perubahan tersebut harus melalui jalan berliku tetapi justru itulah yang membuat jiwa semakin matang, tidak mudah reaktif ketika menghadapi hal yang kurang menyenangkan dan semakin peka dengan keadaan.

Saya melangkah menapaki jenjang pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Yogya dengan harapan bahwa selama sekolah di sana akan menjadikan diri saya lebih baik lagi. Meskipun saya merasa sangat kecewa tidak jadi masuk pondok pesantren tetapi Alhamdulillah waktu itu tidak sampai patah semangat. Saya belajar untuk berlapang dada.

Awal sebelum masuk sekolah diadakan kegiatan MABICA (Masa Bimbingan Calon Anggota) selama seminggu. Kegiatan ini diadakan dari jam 5.30 s/d 19.00 WIB. Semua siswa tiap hari di minta membawa barang yang aneh-aneh dan sulit di dapat. Bapaklah yang setia antar jemput ke sekolah selama kegiatan MABICA ini. 

Karena saya sudah bertekad untuk tidak banyak menjadi beban bagi ortu maka semua kebutuhan MABICA semaksimal mungkin saya siapkan sendiri. Ortu juga tidak menanyakan perlengkapan apa saja yang harus dibawa selama MABICA. 

Banyak aturan dan tata tertib yang harus dilaksanakan selama masa MABICA. Waktu itu diminta memakai kaos kaki yang panjangnya di atas lutut. Karena saya tidak punya maka cukup menggunting ujung kaos kaki yang saya punya sehingga bisa dinaikkan ke atas. Sepatu keseluruhan harus berwarna hitam. Karena punya saya model sepatu warior yang ada warna putihnya sedikit maka cukup saya spidol hitam. 

Lain hari di suruh membawa bawang putih satu bungkul. Kebetulan di rumah ada bawang tapi tidak satu bungkul utuh. Malam itu saya lembur merangkai bawang pakai lem fox agar bentuknya seperti bawang sebungkul dan pagi harinya ketika ada pemeriksaan sukses tidak ketahuan panitia.

Hari lain semua siswa disuruh membawa pita warna coklat muda. Terpaksa saya bilang ke bapak dan pulangnya langsung mampir ke Kotagede cari toko yang masih buka untuk beli pita. Paginya waktu di cek panitia ternyata masih terlalu tua coklatnya. Hal itu sampai 3 kali saya melakukan kekeliruan soal pita. Karena sudah melakukan kesalahan 3 kali itulah saya kena sidang dari sie ketertiban.

Masuk ruang sidang saya di sambut 3 kakak panitia laki-laki dengan wajah "sangar dan garang". Mereka membentak-bentak disertai mendobrak meja secara bergantian. Saya tatap wajah mereka, sesekali menyampaikan alasan karena toko banyak yang sudah tutup dan warna pita yang saya bawa hari ini sudah lebih muda dari yang kemarin. Mereka gak peduli dengan alasan yang saya sampaikan. Selain di bentak-bentak akhirnya saya di kasih hukuman menulis kalimat "saya tidak akan melakukan kesalahan lagi" sebanyak 2 lembar folio penuh.

Keluar dari ruang sidang saya tidak kuasa menahan air mata. Saya menangis tersedu-sedu dan di hampiri Rekno teman SMP yang masuk MUHA juga. Dia menghiburku dan menyarankan saya masuk UKS saja karena muka nampak pucat sekali. 

Saya menangis sebenarnya bukan masalah di bentak kakak-kakak panitia tetapi waktu itu saya terbayang wajah bapak yang punya sifat super sabar. Apapun kesalahan dan perilaku saya yang kurang baik selama itu, bapak sama sekali belum pernah marah maupun membentak. Hal itu yang membuat saya sangat terharu. 

Saya semakin merasa berdosa sekali dengan kenakalan-kenakalan masa lalu sehingga semakin kuat bertekad untuk menjadi lebih baik.

Sekolah di MUHA membuat pergaulan saya semakin luas karena banyak teman-teman dari luar Yogya. Saya cukup kaget mengamati lingkungan pergaulan di sekolah. Waktu itu saya mengira bahwa sekolah di Muhammadiyah 2 pasti tidak jauh berbeda dengan di pondok pesantren. Siswanya alim-alim dan religius, eh..ternyata perkiraan saya meleset.

Di sekolah saya sering melihat perilaku kakak kelas seperti merokok, mabuk, pacaran kelewat batas, maupun tawuran dengan pelajar sekolah lain. Saat itu marak sekali gank-gank pelajar semacam joxin, xizruh, dsb. Sering ada yang sampai berurusan dengan polisi.

Saya cukup kaget karena selama ini bergaul dengan teman-teman di kampung, meskipun di pandang nakal tetapi tidak sampai berperilaku seperti itu. Masih "lugu" dan wajar kenakalannya.

Saya berangkat ke sekolah kadang naik bis atau kalau sepeda federal adik gak di pakai ya saya pinjam. Sementara teman-teman banyak yang naik motor. Rasanya pengin juga seperti teman-teman, ketika sekolah pakai motor, merayakan ulang tahun, pakai sepatu dan jam tangan mahal, dll. Tapi karena saya sudah bertekad tidak akan membebani ortu akhirnya ketika timbul keinginan-keinginan pengin punya suatu barang ya hanya saya pendam. Bahkan tas sekolah saja saya gak berani minta, hanya pakai punya kakak yang sudah tidak di gunakan. Istilahnya "nglungsur". 

Selama SMA itu saya benar-benar berubah. Saya rajin membantu pekerjaan ibu mulai dari cuci piring, ngepel lantai, cuci baju, menyetrika, menyapu halaman, dsb. Kalau malam bantu ibu membuat kerupuk gandum. Karena libur sekolah masih seperti di SMP hari Jum'at maka waktu luang saya gunakan untuk belajar membuat kerajinan kristik. Ada sekitar 20 an hasil karya saya hasilkan dan sebagian saya kasihkan ke saudara atau teman sebagai kado ketika di undang ke acara ultah.


Salah satu koleksi hasil karyaku
Kelas 2 mulai ada penjurusan melalui tes bakat minat. Hasil tes tersebut saya masuk di A3 (Sosial). Saya paling suka dengan pelajaran Sosiologi dan sangat akrab dengan gurunya. Bu Khomariyah guru Sosiologi pernah pesan ke saya agar kapan-kapan bisa main ke rumah beliau. Ketika liburan saya pun menyempatkan main. Beliau cerita panjang lebar tentang kondisi kelas kami. "Ya Allah Tris..saya kalau ngajar kelas kamu kewalahan. Teman-teman kamu susah sekali di atur". Saya hanya tersenyum mendengar keluhan beliau.

Memang semenjak kelas 2 inilah semakin tampak perilaku kenakalan teman-teman seangkatan terutama teman sekelas. Dan di kelas Sosial 1 itulah gudangnya anak nakal. Pernah mobilnya bu Khomariyah di dorong dari parkiran sampai ke halaman sekolah. Guru keterampilan kami Bu Suminah yang terkenal galak sampai "mutung" tidak mau ngajar lagi gara-gara di papan tulis ada tulisan "Smnh Bnl". Apalagi kalau pelajaran Bahasa Indonesia, banyak yang kabur alias bolos. 

Ada kakak kelas yang "nunggak". Dia dah kelewatan nakalnya (perokok berat, sering ikut tawuran, suka minuman keras, dan sering bawa gambar-gambar porno). Karena duduknya persis di belakang saya maka setiap ada ulangan mata pelajaran selalu mencontek punya saya. Dia anak korban "Broken Home". Bapaknya kerja di pelayaran dan jarang pulang. Ya wajarlah kalau perilakunya seperti itu. Kurang perhatian dan kontrol dari ortunya.

Teman-teman sering sekali menceritakan pengalamannya nonton film di bioskop maupun pengalamannya ketika jalan-jalan sepulang sekolah entah itu ke Malioboro atau tempat wisata lain. Saya hanya bisa mendengar dan melihat kegembiraan mereka. Mungkin itu yang di namakan indahnya masa SMA. Penuh tawa, canda, ceria, dan ingin bebas.

Saya sering diajak tapi tetap bertahan pada pendirian bahwa saya akan membantu pekerjaan ortu yang menumpuk karena di rumah memang tidak ada pembantu. Rumah ortu begitu besar dan halamannya pun luas sehingga butuh tenaga ekstra untuk menjaga kebersihannya. Apalagi bapak seorang Dukuh yang sering sekali ketempatan rapat dusun. Otomatis hampir selalu ketika ada rapat, yang namanya cuci piring dan gelas pasti menumpuk.

Saya waktu itu benar-benar menjadi "anak rumahan". Selain kegiatan mengkristik, saya juga mulai menyukai membaca majalah wanita semacam Gadis, Kartini, dan Femina. Di rumah banyak tersedia berbagai macam majalah dan surat kabar sehingga itu cukup membuat saya terhibur. Tak ketinggalan dengan musik, saya waktu itu sangat senang lagu-lagu slowrock. Yang paling terkesan waktu itu lagunya "Tantangan" nya Hari Moekti dan "Menjelang 17" nya Ikang Fawzi. Bahkan sampai mengoleksi kasetnya.

Suatu hari saya dipanggil ke kantor oleh bu Asmah (kepala sekolah) dan pak Singgih guru olah raga. Bu Asmah mengungkapkan kegalauannya terhadap kondisi kelas sosial satu. Mereka kasih amanah ke saya untuk menjadi mata-mata kelas. Mereka minta untuk selalu mengamati perilaku teman-teman yang sekiranya punya perilaku tidak baik dan menginformasikan ke mereka.

Saya awalnya menolak karena kalau ketahuan pasti teman-teman akan marah. Setelah dijelaskan bahwa itu untuk kebaikan kelas dan juga masa depan teman-teman maka tawaran amanah itu saya terima. Saya waktu itu di minta untuk merahasiakan misi tersebut dari siapapun. Saya hanya berfikir kenapa amanah itu dilimpahkan ke saya bukan pada ketua kelas.

Biasanya setelah saya melaporkan hasil investigasi ke kantor, pasti teman yang saya laporkan itu langsung "tercyduk" dapat surat panggilan guru BP. Kembali dari ruang BP biasanya teman-teman pada marah dan merasa pasti ada teman sekelas yang melaporkan.

Hampir semua yang di panggil guru BP mengira bahwa Rifa lah yang melaporkan karena dia memang sering keluar masuk kantor guru. Sebenarnya dia ke kantor untuk menawarkan kerudung ke para guru. Sering sekali Rifa kena "bully" teman-teman entah itu berbentuk kata-kata kasar maupun sikap yang kurang mengenakkan. 

Ada teman bernama Agus Tujiantoro yang termasuk anak nakal di mata guru. Dia pasti cerita ke saya ketika selesai di interogasi dari ruang BP. Dia merasa heran kenapa guru BP tahu secara detil tentang perilakunya. Saya waktu itu sebenarnya menanggung beban mental mengemban amanah tersebut. Saya merasa kasihan sekali sama Rifa. Tapi karena di pesan agar merahasiakan maka saya menahan untuk tetap diam. 

Sampai lulus rahasia itu tetap terjaga dan baru saya ceritakan tahun 2017 kemarin ketika kami bertemu di forum group WA. Teman-teman pada kaget karena tidak menyangka sama sekali bahwa sayalah pelakunya yang melaporkan. Alhamdulillah kami sudah saling bermaaf-maafan dan mengenang itu semua dengan sikap persahabatan.

Memasuki kelas 3 saya terpilih menjadi salah satu pengurus koperasi siswa dan menjadi sekretaris II. Di situlah saya mulai belajar berorganisasi. Selain sering melakukan koordinasi, kami semua pengurus koperasi juga dapat giliran untuk jaga koperasi. Saya juga mulai belajar berdagang. Saya pinjam kerudung punya Rifa untuk di jual ke teman-teman pengajian remaja masjid. Hasil dari penjualan kerudung saya kumpulkan dan biasanya saya belikan bahan kristik.

Akhirnya saya lulus kelas 3 dengan meraih NEM peringkat ke 2. Saya mencoba mendaftar UMPTN jurusan Sosiologi tetapi tidak lolos. Saya minta ke bapak untuk di daftarkan les ke Bimbingan Belajar Primagama atau yang lainnya untuk selanjutnya tahun depan mencoba daftar UMPTN lagi. 

Tetapi bapak tidak setuju, diam-diam beliau sudah mendaftarkan saya ke STIE'Yo (sekarang UTY) jurusan akuntansi. Saya bilang ke bapak kalau saya kurang suka dengan akuntansi. Tapi bapak tetap dengan pendiriannya, bahkan bapak sudah membayar lunas biaya masuknya dan sudah mengambil kaos untuk OPSPEK.

Rasa kecewa itu muncul lagi pada diri saya. Setelah dulu gagal masuk pondok pesantren, kini harus menerima kepahitan masuk kuliah ke jurusan yang bukan minat saya. Mengingat bapak sudah keluar uang banyak akhirnya dengan terpaksa ku jalani juga semua itu. Saya hanya bisa merenung betapa susahnya mencari ridho Allah karena harus melalui ridho ortu.

#Ibroh keenam : Orang tua perlu mengetahui bakat dan minat anak sejak awal agar dapat mengarahkan pendidikan anak dengan tepat. Pendidikan yang tepat akan menjadikan anak berkembang secara optimal.

Sebelum masuk kuliah (masih libur panjang), kantor KR (Kedaulatan Rakyat) berencana mengadakan tour ke Bali. Bapak sebagai salah satu agen terbaik mendapatkan tiket 2 lembar. Waktu itu saya mendengar percakapan bapak dan ibu tentang siapa yang mau di ajak ke Bali. Ibu berkata, "Ngajak Trismiati wae, ben bocahe seneng". Mungkin karena ibu mengamati saya yang beberapa hari nampak murung akibat di daftarkan di STIE"Yo. 

Akhirnya saya dan bapak yang berangkat ke Bali. Waktu di kapal bapak cerita kalau mendapatkan uang saku dari kantor KR. Bapak bilang ke saya, " nek wis tekan, kowe arep njaluk opo tak tukokke".  Waktu itu saya hanya minta di belikan rompi dan ketika di Bedugul saya pengin naik boat dan bapak pun mengabulkan keinginan saya.


Kenangan di Pulau Bali 


Menatap hari depan dengan setengah hati


Demi baktiku kepada ortu akhirnya saya meneruskan kuliah D3 Akuntansi di STIE"Yo. Karena adik laki-laki saya waktu itu sudah di belikan motor maka sepeda federalnya kupakai kuliah. Melangkah dengan setengah hati menjadikan awal-awal kuliah kurasakan sangat berat. 

Hampir tiap hari masuk kelas selalu terlambat. Kuliah pun hanya bawa buku tulis 1 yang ku taruh di saku celana. Untuk melengkapi catatan mata kuliah dari dosen, saya biasa pinjam buku punya teman lalu minta tolong bulik Sri untuk menulisnya. Rasanya waktu itu yaa kurang semangat. Apalagi kalau harus ngitung deretan angka-angka yang tidak ada wujud uangnya. Pusing tujuh keliling !

Meskipun terseok-seok akhirnya semester 1 dan 2 berhasil saya lalui dengan nilai IP mencapai 3 lebih sedikit. Selama satu tahun kuliah, saya sudah merasakan kebosanan tingkat tinggi. Apalagi menginjak semester 3, deretan mata kuliahnya yang semakin sulit seperti auditing, Sistem Akuntansi, Perpajakan, dsb. membuat mata serasa berkunang-kunang.

Pada saat itulah timbul gejolak pada diri saya. Ada keinginan kuat untuk berhenti kuliah. Tetapi saya selalu teringat kalimat bahwa ridho Allah terletak pada ridho ortu. Akhirnya terjadi perang batin antara keinginan untuk melanjutkan kuliah atau berhenti di tengah jalan. Semua pilihan tentu ada konsekuensinya. 

Dan ketika pilihan itu saya sampaikan ke bapak, beliau nampak tertegun. Apa pilihan saya waktu itu? Tunggu cerita saya selanjutnya. Yang pasti pilihan tersebut mampu "menjadikan hidup saya menjadi lebih hidup"..@trismiati




Cintaku Terpaut Di PAUD (episode 2)

Setiap orang secara terus menerus pasti mengalami perubahan perilaku dalam hidup. Perubahan itu terjadi karena di pengaruhi oleh faktor usia, pengalaman, maupun hasil dari belajar di sepanjang hidupnya. 

Begitu juga perubahan yang terjadi pada diri saya ketika memasuki jenjang pendidikan SMP.  Saat awal kelas 1, kondisi emosi saya sebagai remaja awal atau isitilahnya ABG (Anak Baru Gede) masih sangat labil. Apabila menghadapi hal yang kurang menyenangkan misalnya sikap ortu yang nampak pilih kasih, selalu muncul rasa kesal dan sikap reaktif

Kekesalan itu sering saya tumpahkan pada kakak berupa sikap usil untuk mengganggu. Masih teringat ketika kakak baru mandi pagi, buku di dalam tas sekolahnya saya tukar dengan buku lain yang bukan jadwal hari itu. Lain hari sebagian buku saya ganti dengan alat-alat bengkel seperti gunting, tang, obeng dsb. 

Saking kesalnya, pernah hasil karyanya saya gunting sampai hancur berkeping-keping padahal mau dia serahkan ke guru. Biasanya kakak pulang sekolah berurai air mata dan mengadu pada ortu jika mendapat perlakukan seperti itu.

Sikap usil juga saya tujukan ke adik laki-laki. Dia juga termasuk anak spesial bagi ortu karena anak lelaki satu-satunya di keluarga kami yang masih hidup. Ada dua saudara  laki-laki saya yang meninggal waktu bayi. Anak sulung dan anak nomer 4. Maka adik saya itu sangat di manja. Semua keinginannya selalu dituruti ortu terutama ibu. Hal itu juga sering menimbulkan rasa cemburu pada diri saya.

Adik sering sekali mengolok-olok saya dengan sebutan "Tris tholo". Teman bapak ada yang namanya Pak Tris. Beliau jualan hasil pertanian salah satunya "tholo" sejenis biji-bijian yang biasa untuk sayur brongkos. Maka orang menyebutnya Pak Tris tholo.

Biasanya sepulang dari kegiatan berkemah, saya tertular kutu rambut dari teman satu regu. Karena adik mengolok-olok saya "kutuan" maka pada suatu malam saat dia tidur pulas kepalanya saya kasih kutu. Beberapa hari kemudian kutu tersebut beranak pinak dan menimbulkan gatal-gatal di kepalanya. Setelah di kasih tahu kakak kalau yang naruh kutu saya, dia langsung marah dan seperti biasa kami langsung berkelahi "gebug-gebugan" pakai sapu ijuk.

Pernah rambutnya yang agak gondrong saya gunting pendek dan pagi nya sewaktu bangun tidur langsung marah-marah. Sejak saat itu kalau tidur pintu kamarnya selalu terkunci.

Adik juga sering kesal sama saya karena kalau libur sekolah sepeda federalnya saya pakai sampai seharian. Waktu itu saya memang tidak punya sepeda sendiri. Kakak dan adik-adik di belikan sepeda semua. Kakak punya sepeda jengky, adik lelaki punya federal dan adik yang ragil punya sepeda mini hitam. Saya paling suka pinjam federal.

Karena tidak punya sepeda maka kalau berangkat sekolah ya kadang jalan kaki sama mbak Ndarsih (tetangga), bonceng mas Wondo (teman main) atau kalau kakak sikapnya lagi baik ya di perbolehkan bonceng dia (ngantar saya dulu baru menuju ke sekolahnya SMP N 9). Jika sore ada kegiatan  ekstrakurikuler atau pramuka biasanya pinjam sepeda mini punya adik.

Di usia SMP waktu itu, ortu sudah mengharapkan kami membantu pekerjaan rumah. Pekerjaan di rumah memang banyak sekali, apalagi bila masa panen tiba kami juga harus bantu njemur padi. Bapak pernah menyarankan pada ibu untuk mencari pembantu tetapi ibu tidak setuju. 

Akhirnya  kami bertiga bersama bulik Sri (adiknya ibu) yang sering membantu pekerjaan ibu. Kami di beri tanggung jawab tugas sesuai kemauan. Kakak dapat tugas cuci piring dan setrika baju, saya mengepel lantai dan menyapu halaman, sementara adik laki-laki menimba air ke bak mandi setiap pagi dan sore. 

Kakak kalau nyetrika baju hanya yang punya dia, bapak, ibu dan adik-adik saya. Kakak bilang ke saya "klambimu tok setliko dewe !". Karena saya kurang suka nyetrika baju ya setiap malam seragam sekolah cukup saya lipat rapi dan di taruh di bawah bantal. Paginya sudah siap pakai. Bahkan ketika ada rok bagian bawah jahitannya lepas, cukup saya streples karena ingin praktisnya saja..he..he..gak mau terlalu "ribet".

Meskipun masing-masing sudah diberi tanggung jawab pekerjaan rumah, saya paling sering lepas tangan. Bapak biasanya hanya mendiamkan saja dan mengambil alih tugas saya. Justru kakak dan adiklah yang sering mengomel dan menggerutu. 

Pada suatu hari, saya di ajak ngobrol sama bapak. Beliau menyampaikan keinginannya jika saya lulus SMP besok akan di masukkan ke pondok pesantren. Saya hanya diam dan tidak menanyakan alasannya kenapa. Hanya berlalu begitu saja.

#Ibroh ketiga:  Janganlah orang tua suka membandingkan anak satu dengan anak yang lain karena masing-masing tentu punya bakat, kecerdasan dan keunikan tersendiri. Bersikap adillah pada semua anak karena kecemburuan anak kepada saudaranya yang lain dapat menimbulkan perseteruan yang dalam jangka panjang dapat mengganggu keharmonisan keluarga.

Seperti anak ABG lainnya yang baru memasuki fase mencari jati diri dan mulai menjadikan seseorang sebagai idola, saya juga mengalaminya. Mungkin karena terbawa lingkungan pergaulan masa usia SD, yang saya idolakan waktu itu para pemain sepak bola. Saya sampai mengoleksi kliping gambar para atlit sepak bola tanah air. Pernah beberapa kali di ajak bapak nonton liga sepakbola di Mandala Krida. Wah..rasanya seneng sekali bisa melihat langsung tokoh idola.

Pelajaran yang paling saya sukai selama SMP adalah olah raga terutama lari marathon, sejarah, dan kegiatan pramuka. Pada saat jam olah raga sering saya di mintai tolong pak Karsono (guru olah raga) untuk membawakan peralatan olah raga yang akan di gunakan. Kami biasa olah raga di lapangan Karang dengan jalan kaki. Saya merasa senang jika di beri tugas seperti itu. 

Saat kelas 2 akhir tahun ajaran ada kegiatan kemah di Kaliurang. Pada malam terakhir di adakan api unggun dan renungan malam. Kakak-kakak pembina memberikan nasehat berupa kalimat-kalimat yang sangat menyentuh hati. 

Saat itulah hati saya meleleh sampai tak kuasa menahan tangis. Renungan tersebut menggambarkan bagaimana beratnya beban ortu dalam mencari rezeki bagi keluarga. Bagaimana sakitnya seorang ibu melahirkan kita. Maka sebagai anak kita diwajibkan untuk menghormati dan menyayanginya. Kata mereka bahwa ridho Allah itu terletak pada ridho ke dua ortunya.

Pada malam itu kita juga di minta membayangkan satu persatu perilaku apa yang selama ini kita tunjukkan pada ortu. Malam itu hati saya serasa tersayat pisau tajam sekali sampai dada terasa sesak akibat isak tangis. Akhirnya kesadaran saya pun tumbuh dan pulangnya membawa sebuah tekad untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Saya berjanji pada diri sendiri untuk menuruti apa kata ortu dan tidak akan membuat beban bagi mereka. Saya ingin menunjukkan pada ortu bahwa saya pun bisa berprestasi. Memasuki kelas 3 SMP saya mulai rajin belajar dan rajin membantu pekerjaan ibu. Usaha keras saya tidak sia-sia. Nilai raport di semester 1 dan 2 naik drastis mendapat ranking 2 dan 3. 

Alangkah bahagianya saya saat itu ketika upacara hari Senin menerima hadiah dari bapak kepala sekolah. Hati berbunga-bunga ketika nama saya diumumkan sebagai salah satu pelajar kelas 3 dengan nilai raport cukup baik. Hadiah tersebut isinya hanya beberapa buku tulis tetapi sudah membuat saya merasa bangga.

Prestasi yang saya peroleh tersebut ternyata hanya ditanggapi ortu biasa-biasa saja. Tidak ada ucapan selamat apalagi hadiah. Rasanya waktu itu seperti permen nano-nano, yaa senang, bahagia campur kecut, kesal, kecewa jadi satu. 

Saya berusaha keras menerima kondisi tersebut dengan lapang dada dan tidak bersikap reaktif lagi. Mulai saat itulah saya memiliki sebuah buku diary. Setiap peristiwa yang membuat hati saya  susah, kecewa, marah, senang, maupun bahagia selalu saya ungkapkan melalui tulisan di sana. Diary telah menjadi sahabat sejatiku. Saya bebas mengungkapkan apapun yang saya rasakan. Biasanya selesai menulis di buku diary, hati menjadi lebih lega. 

#Ibroh keempat : Orang tua perlu memberikan reward atau penghargaan pada anak yang punya prestasi agar semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Reward tidak harus berupa barang tetapi bisa kata-kata yang mengungkapkan kebanggaan terhadap hasil yang sudah diraih anak.

Akhirnya saya lulus SMP dengan NEM lumayan lebih bagus dari NEM kakak. Saya menanyakan ke bapak tentang rencananya dulu mau memasukkan saya ke pondok pesantren. Saya bilang ke bapak kalau siap masuk pondok. Bapak kasih penjelasan panjang lebar kehidupan di pondok, kalau masuk pondok tidak sewaktu-waktu bisa pulang. Bapak tanya " gelem po?". Saya jawab dengan mantap "mau pak".

Tapi ternyata bapak sendiri yang tidak tega. Bapak menyarankan untuk daftar di SMA N Banguntapan atau Pleret. Karena batal tidak masuk pondok maka saya bersikeras minta di daftarkan di SMA Muhammadiyah 2 Yogya (MUHA) dengan alasan agar bisa tetap pakai jilbab dan pengin sekolahnya di kota. Waktu itu belum ada UU jilbab sehingga hanya di sekolah berbasis Islam pelajar diperbolehkan berjilbab. Akhirnya bapak mendaftarkan saya di MUHA pada gelombang pertama.

Diary...Sahabat sejatiku di masa lalu

Catatan peristiwa yg membuat hatiku meleleh

Waktu terus berjalan dengan meninggalkan banyak kenangan. Masa usia SMP kutinggalkan dan siap melangkah menuju masa SMA yang kata orang merupakan masa paling indah bagi kehidupan remaja. Benarkah demikian? Ternyata tidak bagi saya. Kenapa? Tunggu cerita selanjutnya yaa..@trismiati








Cintaku Terpaut Di PAUD (episode 1)

Pengalaman adalah guru terbaik bagi kehidupan. Bagi saya, pepatah ini sudah terbukti kebenarannya. Segudang pengalaman masa lalu telah membawa saya pada sebuah rasa cinta di mana sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak pikiran. 

Menjadi seorang pendidik di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) awalnya bukan merupakan impian. Masih teringat ketika bapak/ibu guru SD, SMP maupun SMA menanyakan apa cita-cita saya, jawaban tidak pernah berubah yaitu ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Sangat sederhana kan?

Karena dari awal tidak memiliki sebuah cita-cita yang jelas maka dalam menempuh pendidikan formalpun kurang terarah. 

Nah, pada edisi kali ini penulis akan berbagi cerita tentang sebuah proses perjalanan menemukan potensi diri di mana terdapat banyak sekali pelajaran yang bisa diambil sebagai ibroh (hikmah) terutama bagi orang tua dalam hal mendidik anak.

Besar di lingkungan keluarga awam agama dengan ke dua ortu juga bukan dari kalangan terdidik  rasanya "sesuatu banget". Sering terjadi miskomunikasi antara ortu dengan anak yang kadang sampai menimbulkan gejolak perasaan. Apalagi waktu itu belum ada kegiatan semacam "parenting" sehingga ortu dalam mendidik anak ya mengalir begitu saja, tidak dilandasi ilmu yang memadai.

Walaupun kondisi keluarga seperti itu, saya tetap bangga pada ortu terutama dalam hal etos kerja dan semangatnya mencari ilmu. Bapak yang hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat) akhirnya termotivasi mengikuti program kejar paket hingga sampai C (setingkat SMA). Almarhumah ibu yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan pun juga ikut kegiatan keaksaraan sampai akhirnya bisa membaca dan menulis.

#Ibroh pertama : Menjadi orang tua itu tidak mudah, perlu bekal ilmu dan pengetahuan. Sebagai  orang tua sebaiknya tidak malas belajar dan selalu semangat mencari ilmu, entah itu melalui kegiatan parenting di sekolah, seminar, pengajian, membaca buku dan sebagainya.

Bapak sering mendampingi saya belajar dan membantu mengerjakan PR dari guru. Ketika saya sakit, bapak lah yang selalu memijit-mijit dan mengantar ke dokter. 

Secara psikis, saya memang lebih dekat dengan bapak dari pada ibu. Mungkin karena perhatian ibu sudah terforsir buat mengasuh ke dua adik saya yang masih kecil-kecil.

Bapak sangat telaten mengajari saya  keterampilan hidup seperti cara menyapu halaman, melipat baju, mengepel lantai, dsb. Tetapi semua itu tidak berlangsung lama.

Ketika saya kelas 4 SD bapak terpilih menjadi Kepala Dusun (Dukuh) sehingga otomatis kesibukannya makin bertambah. Sebelumnya bapak juga sudah punya usaha agen koran (surat kabar dan majalah) yang jumlah pelanggannya waktu itu mencapai 2000 an. Ibu juga punya usaha rumahan (home industri) membuat emping mlinjo dan kerupuk dengan dibantu 8 orang tetangga sekitar rumah.

Alhamdulillah dari segi  ekonomi, keluarga kami tidak pernah kekurangan. Tetapi dengan beban pekerjaan ortu sepadat itu berimbas pada perhatian ortu terhadap ke 4 anaknya menjadi sangat berkurang. Mereka sudah jarang mengontrol perkembangan belajar kami. Ketika di rumah pun kami bebas, mau belajar apa enggak terserah. Yang penting kami semua naik kelas saja ortu sudah puas.

Perilaku seorang anak yang kadang menjengkelkan ortunya bisa jadi itu merupakan bentuk pancingan agar diperhatikan. 

Begitu juga yang saya lakukan waktu itu. Saya sering mengajak kakak pura-pura tidur di lantai dengan alas sandal jepit yang di tata rapi, melihat kami seperti itu biasanya bapak "menggendong" memindahkan kami ke tempat tidur. Ketika bapak pergi kami tertawa senang. Pernah saya ngumpet di kolong tempat tidur hingga tertidur sampai membuat ortu galau.

Selain aktifitas sekolah, masa usia SD saya habiskan sebagian besar waktu hanya untuk bermain. Hampir tiap hari sepulang sekolah langsung gabung sama teman-teman sekitar rumah. Karena teman main kebanyakan laki-laki maka jenis permainannya pun cenderung ke fisik motorik, seperti main kelereng, main layang-layang, egrang, sepak bola, sepak sekong, eteng, benthik, gobak sodor, jek-jekan, kasti, bahkan sampai bergelantungan di dahan pohon sudah biasa.

Sering juga ikut teman menggembala kambing dan cari ikan di sungai pulang sampai maghrib. Ibu suka marah ketika saya pulang. Tetapi kemarahan beliau tidak membuat saya jera, lain hari terulang lagi, lagi, dan lagi. Masih teringat ibu pernah marah besar dan berkata : "nek dikandani ora nggugu sesuk rasah sekolah! tak tukokke wedus wae kepiye?".

Karena pergaulan saya kebanyakan dengan anak laki-laki itulah membuat saya terbentuk menjadi anak yang super aktif dan cenderung bandel. Ortu memberi label pada saya sebagai anak "ngeyel" yang susah diatur. Meskipun ibu sering marah tetapi hanya sebatas kata-kata, beliau tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Hanya kalimat keluhan "Ya Allah..paringono sabaaarrrr" itu yang terdengar.

Model busana juga seperti laki-laki, ketika bermain cukup pakai kaos dan celana pendek. Anting-anting, kalung, dan cincin yang dibelikan ibu pun gak saya pakai. Cincin pernah saya taruh sembarangan, tidak sengaja terjepit pintu meja belajar sampai gepeng. Akhirnya semua perhiasan diminta ibu untuk di jual kembali.

Selain bermain, saya dan teman-teman sering juga berkelahi dengan anak-anak lain RT. Ketika bulan puasa tiba, kami selalu membuat long bumbung dari bambu, ketika dinyalakan suaranya menggelegar. Semakin keras suara yang dihasilkan akan membuat kami semakin senang.

Karena terlalu banyak main dan jarang belajar maka wajar ketika lulus SD NEM saya "jeblog". Ortu terlihat sangat kecewa tetapi tidak sampai marah besar, hanya membanding-bandingkan kenapa saya tidak seperti kakak yang NEM nya bagus sehingga bisa masuk SMP N 9 Yogya. Kakak memang anaknya rajin belajar, rajin membantu pekerjaan rumah, mau "momong" adik, dan sangat penurut. Pokoknya menjadi kebanggaan dan andalan ortu lah.

Dengan bekal NEM rendah akhirnya bapak memasukkan saya ke SMP Muhammadiyah 7 Kotagede. Dari sinilah saya justru mendapatkan banyak ilmu tentang keislaman. Saya juga mulai ikut pengajian remaja masjid di dusun.

Karena sekolah liburnya Jum'at maka sudah jarang sekali bermain dengan tetangga. Bermain dengan mereka hanya ketika libur panjang. Biasanya kami jalan-jalan atau naik sepeda pergi ke tempat-tempat wisata. 

Pernah saya di tantang kuat gak naik sepeda ke pantai Glagah. Akhirnya berangkatlah kami bertujuh dan saya perempuan sendiri naik sepeda ke pantai Glagah. Meskipun sempat tersesat jauh karena salah jalan ya akhirnya sampai juga ke sana. Karena uang saku minim, waktu mau masuk pintu gerbang saya disuruh merayu ke bapak penjaga TPR agar dapat masuk dengan gratis. Dengan wajah memelas, saya bilang ke penjaga "pak, niki pengin ten pantai tapi sangune pun telas nggih tumbas mie ayam". Penjaga tanya "omahmu ngendi?", saya jawab Kotagede. Mereka kaget dan akhirnya kami dibiarkan masuk tanpa beli tiket. Sisa uang saku kami belikan semangka yang ada di dekat pantai.

#Ibroh keduasesibuk apapun orang tua seharusnya tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya dan mengontrol lingkungan pergaulannya. Anak tidak hanya butuh materi tetapi sangat membutuhkan juga sentuhan kasih sayang dan perhatian dari ke dua orang tuanya.

Terjadi perubahan besar pada diri saya ketika menginjak kelas 3 SMP. Sebuah peristiwa yang membuat hati saya meleleh. Apa itu? Insya Allah akan saya ceritakan pada episode selanjutnya..@trismiati





Menjalin Komunikasi Melalui Outbound Keluarga

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang tanpa batas usia. 

Melalui pendidikan akan didapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan maupun keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Pendidikan juga dapat membentuk karakter manusia lebih beradab.

Menurut Ki Hajar Dewantara, terdapat tiga sentra pendidikan yang sangat menentukan keberhasilan anak untuk berkembang menjadi insan yang berdaya guna. 

Ke tiga sentra tersebut yaitu pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat.

Keluarga khususnya orang tua adalah orang yang paling pertama memikul tanggung jawab pendidikan anak. Secara alami merekalah yang menanamkan pandangan hidup, sikap, karakter dan keterampilan hidup pada anak.

Lingkungan sekolah juga mempunyai peran penting sebagai mitra keluarga dalam membimbing dan memberikan pengajaran pada anak agar dapat berkembang secara optimal. 

Sementara pendidikan di lingkungan masyarakat dapat meningkatkan mutu dan budaya agar terhindar dari kebodohan. 

Ke tiga sentra pendidikan tersebut harus saling bekerja sama dalam menjalankan fungsi dan perannya. Maka diperlukan komunikasi efektif agar dalam mencapai tujuan pendidikan tercapai sesuai harapan.

Lembaga pendidikan sebaiknya merancang program-program kegiatan yang melibatkan peran serta orang tua dan masyarakat.

Partisipasi orang tua dan masyarakat dalam lembaga pendidikan akan sangat mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan anak. 

Outbound keluarga adalah salah satu kegiatan yang dapat digunakan sebagai sarana meningkatkan komunikasi khususnya antara orang tua dengan guru. 

Kegiatan ini sifatnya santai, menyenangkan dan mampu menghadirkan keakraban di antara peserta. Anak juga mendapatkan pengalaman belajar melalui permainan-permainan yang menarik dan penuh tantangan.

Apabila hubungan antara orang tua dengan guru akrab maka akan lebih mudah terjalin sebuah pola komunikasi efektif sebagai pendukung kelancaran proses pendidikan anak. Ketika terjadi masalah pun dalam penyelesaiannya akan lebih mudah.

Kegiatan outbound yang dilaksanakan di alam terbuka ini bisa membuat pikiran kita kembali segar dan badan pun menjadi sehat. Bagi pembaca yang belum pernah ikut outbound bisa menyimak sekilas kegiatan tersebut melalui link video di bawah ini. @trismiati 
Menumbuhkan keakraban

Melatih kerjasama 


Menumbuhkan percaya diri

3 Bekal Menjadi Orang Tua Hebat

Selain mencukupi kebutuhan materi, orang tua juga mempunyai kewajiban mendidik anak menuju kehidupan yang mulia. 

Anak tidak cukup hanya diserahkan kepada pihak sekolah saja untuk mendidiknya tetapi justru orang tua lah yang berperan sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Di era teknologi informasi saat ini,  mendidik anak membutuhkan usaha keras karena tantangan yang dihadapi semakin kompleks. 

Selain faktor media yang mudah di akses anak tanpa batas, pengaruh lingkungan bergaul juga dapat membuat anak terjerumus ke perilaku negatif yang dapat menghancurkan masa depannya.


Kita perlu merenungi sejenak firman Allah Ta’ala di dalam Al Qur'an surat An-Nisa’ ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Berdasarkan ayat di atas, terdapat tiga bekal yang harus dipersiapkan orang tua dalam mendidik anak:

➤1. Berupa rasa takut.

Orang tua tentu tidak selamanya akan bersama anak. Perpisahan entah itu karena kematian atau beda tempat tinggal sebab pernikahan pasti akan terjadi. 

Orang tua seharusnya punya rasa takut ketika harus meninggalkan anak dalam kondisi lemah. Tidak hanya lemah secara materi atau fisik tetapi juga lemah akal / pengetahuan maupun jiwa / spiritual.

Banyak orang tua lalai membiarkan anak melakukan hal sia-sia sampai menyita banyak waktu seperti nonton TV, main games, gadget, bergaul dengan teman main tanpa pengawasan dan sebagainya sehingga menjadi penyebab kesulitan hidup di masa depan.

Berbekal rasa takut, orang tua harusnya bersungguh-sungguh mulai menyiapkan anak mengarungi hidup dengan bekal iman yang kokoh, ilmu pengetahuan luas dan akhlak mulia.

➤2. Ketakwaan pada Allah SWT.

Orang tua dalam mendidik anak harus berdasarkan pada rasa takwa pada Allah SWT, yaitu dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi segala macam laranganNya. Penuhilah hal-hal yang merupakan hak anak dan jangan sampai menelantarkannya.

Agar orang tua dalam mendidik anak tidak menyimpang dari aturan Allah maka di butuhkan bekal pemahaman berupa ilmu pengetahuan. 

Orang tua jangan malas untuk belajar. Banyak sumber ilmu yang bisa di gali seperti menghadiri kajian keislaman, mengikuti program parenting, mencari informasi dari internet maupun membaca buku.

➤3. Berkata benar.

Berbicara dengan perkataan baik dan benar harus melekat pada diri orang tua karena akan berpengaruh terhadap perilaku anak. 

Dengan dilandasi rasa takwa maka perkataan yang benar akan menjadikan orang tua menjadi semakin bijaksana dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi anak.

Demikian tiga bekal yang harus dimiliki orang tua dalam mendidik anak. Jadilah orang tua hebat bagi anak di tengah kehidupan dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai agama ini. 

Ilmu yang sedikit ini semoga bermanfaat dan kita senantiasa di beri kemudahan dalam menyiapkan anak menjadi generasi berkualitas. @trismiati


NB:

Bagi ayah bunda yang ingin menambah hasanah keilmuan khususnya tentang pembentukan karakter anak, berikut ada beberapa referensi buku bacaan, bisa di dapatkan melalui pembelian tunai atau sistem arisan. 
Ayoo mumpung ada diskon nich.....Bagus juga untuk melengkapi koleksi perpustakaan sekolah.
Hub WA : 085875711785




























Manfaat Kegiatan Eksplorasi Alam

Ketika anak berada pada masa emas (0 - 5 tahun), otak anak mengalami perkembangan yang sangat dahsyat yaitu sekitar 80 %. Pada masa sensitif...

Popular Posts